BACA JUGA: Nilai Ahok Rasis, Fadli Zon Kadrun Gantikan Posisi Ahok?
Foto : Ilustrasi bisnis perdagangan senjata AS
Korea Utara yang saat itu memiliki populasi 9,6 juta, harus kehilangan 1,3 juta warga sipil dan tentara akibat perang. Sementara Korea Selatan kehilangan 3 juta lebih warga sipil dan 225 ribu tentara dari total populasi 20,2 juta pada 1950. AS kehilangan 33.000 prajuritnya. Cina, yang ikut ambil bagian membantu mitra komunisnya, kehilangan 600.000 jiwa. Yang mana hanya ditangguhkan melalui perjanjian gencatan senjata. Gencatan senjata diteken pada 27 Juli 1953. Gencatan senjata tidak berarti menghapus permusuhan keduanya. AS dan Korea Utara melarang warganya berkunjung ke masing-masing negara. Bagi orang Korea Utara, AS adalah penyebab kehancuran dengan dimulainya serangan udara oleh Angkatan Udara AS USAF. AS menjatuhkan sekitar 635.000 ton bom ke Korea Utara. Merupakan jumlah yang lebih banyak dijatuhkan AS selama Perang Dunia II di teater Pasifik. Angka termasuk 32 ribu ton bom napalm. Serangan udara mematikan AS dipakai oleh pemerintah Korea Utara. Tak lain untuk menggambarkan AS dalam setiap propagandanya. AS adalah musuh yang bisa melakukan hal mengerikan. Bahkan, menurut Robert E. Kelly, seorang profesor ilmu politik di Universitas Nasional Pusan Korea Selatan. Pemboman dianggap sebagai dosa AS dalam propaganda (Korea Utara). Tentu saja biadab. Menjadi alat politik untuk membenarkan keadaan darurat permanen.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
-
Namun demikian, disinyalir AS sengaja menciptakan adu domba negara. Berupa sebuah gencatan senjata demi untuk transaksi bisnis perdagangan senjata. Pemerintah AS disebut menjual berbagai senjata canggih kepada Korea Selatan dan Jepang. Dilakukan untuk meningkatkan laba perusahaan senjata canggih AS. Tentunya sambil menciptakan suasana sangat tegang (a hair trigger situation) di Semenanjung Korea. Pada 5 September 2017, sepekan setelah Pyongyang melakukan uji coba rudal balistik melewati Jepang, Trump mencuit di akun pribadinya @realdonaldtrump. Mengizinkan Jepang dan Korea Selatan untuk membeli lebih banyak senjata canggih dan peralatan militer dari AS. Punya banyak rudal yang bisa menjatuhkan rudal lawan di udara dengan akurasi 97 persen. Rezim Korea Utara menyebutkan. Presiden AS, Donald Trump, sebagai pedagang perang dan pencekik perdamaian. Menurut studi terbaru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) tentang industri senjata global. Penjualan senjata 2018 meningkat 47%. Menurut laporan SIPRI yang dirilis Senin (9/12/2019), peningkatan penjualan senjata terutama didorong oleh lima perusahaan senjata terbesar di Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya sejak 2002, lima pabrikan senjata terbesar dunia diisi oleh perusahaan dari Amerika Serikat. Yakni dengan pangsa pasar 35% dari penjualan 100 perusahaan senjata terbesar dunia. Rentetan merger dan akuisisi mengindikasikan bahwa perusahaan senjata AS mengharapkan kenaikan bisnis senjata. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: 11 Artis Diduga Harga Booking Tinggi