BACA JUGA: Aceh Pro Pembangunan Jokowi
Foto : Syekh Ali Jaber bersama para ulama lain
Syekh Ali Jaber mendapatkan pendidikan formal dari ibtidaiyah hingga aliyah di Madinah. Setelah lulus sekolah menengah, dia melanjutkan pendidikan khusus pendalaman Al Quran kepada tokoh dan ulama ternama. Yang mana berada di Madinah dan luar Madinah, Arab Saudi. Diantaranya Syekh Muhammad Husein Al Qari’ (Ketua Ulama Qira’at di Pakistan), Syekh Said Adam (Ketua Pengurus Makam Rasulullah), Syeikh Khalilul Rahman (Ulama Al Quran di Madinah dan Ahli Qiraat), Syekh Khalil Abdurahman (seorang ulama ahlul Quran di Kota Madinah), Syeikh Abdul Bari’as Subaity (Imam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram), Syeikh Prof. Dr. Abdul Azis Al Qari’ (Ketua Majelis Ulama Percetakan Al Quran Madinah dan Imam Masjid Quba) dan Syeikh Muhammad Ramadhan (Ketua Majelis Tahfidzul Quran di Masjid Nabawi). Selama penggembelangan dirinya, ia juga rutin mengajar dan berkdakwah khususnya di tempat tinggalnya, yakni masjid tempat ayahnya mensyiarkan Islam dan Ilmu Alquran. Selama di Madinah ini, ia juga aktif sebagai guru hapalan AlQur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam salat di salah satu masjid Kota Madinah.
BACA JUGA: Rocky Gerung Jadi Muallaf?
-
Pada tahun 2008, kala usia 32 tahun, Syekh Ali Jaber terbang ke Indonesia. Dia menuju ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Disini dia menjadi guru tahfidz (hafalan) Quran, Imam shalat dan khatib di Masjid Agung Al Muttaqin Cakranegara Lombok, NTB, Indonesia. Karirnya berlanjut saat diminta menjadi Imam shalat tarawih di Masjid Sudan Kelapa, Menteng, Jakarta. Selain itu, dia juga menjadi pembimbing tadarus Quran dan Imam shalat Ied di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta. Kehadirannya ternyata mendapat sambutan yang sangat baik oleh masyarakat Indonesia. Dakwahnya yang menyejukkan, penyampaiannya sangat rinci dan berisi dengan ayat - ayat Al Quran dan hadits. Dia mulai sering dipanggil keliling Indonesia untuk syiar Islam. Ketulusannya berdakwah, ia mendapat penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada tahun 2011, dia menjadi Warga Negara Republik Indonesia (WNI). Dia resmi menjadi WNI dengan menerima paspor Indonesia. Untuk berkomunikasi dengan para warga, dia akhirnya belajar Bahasa Indonesia. Jatuh cinta dengan tanah air dan tetap ingin menyebarkan dakwah di Indonesia. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Pengusaha Minta Pemerintah Kompak Hadapi Covid 19