Kamis, 4 Juni 2026

SAH : Komunikasi, Hindarkan Anak dari Jerat Narkoba

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Kamis, 9 Juli 2020 | 11:16 WIB

Surabaya NAWACITAPOST - Sungguh Ironis. Dari data BNNK Surabaya, di masa pandemi Covid-19 ini kasus penyalahgunaan narkoba yang melibatkan anak-anak, mengalami peningkatan. Sungguh hal ini menjadi PR tersendiri bagi pemerintah dan para aktifis Narkoba yang ada di Surabaya karena apabila kurang perhatian akan semakin merusak kehidupan Generasi bangsa mendatang.


Meenyikapi hal ini, Siti Anggraeni Hapsari atau yang akrab dipanggil SAH merasa prihatin dan khawatir sehingga turut memberikan saran dari sudut pandangnya selaku Notaris senior, pengamatan sosialnya maupun sebagai seorang Ibu.


Ditemui dikantornya, Ngagel Surabaya, Senin (6/7), SAH menjelaskan bahwa saat ini sasaran narkoba bukan hanya orang dewasa saja, anak-anak yang belum apa-apa juga menjadi 'sasaran empuk' bagi pengedar untuk memanfaatkannya sehingga masuk dalam pusaran jaringan narkoba. Baik sebagai pemakai bahkan sudah banyak yang terlibat dalam peredarannya.


“Anak-anak SD dan SMP paling rentan untuk dilibatkan dalam pengedar narkoba. Anak-anak ini paling kasihan menjadi korban, sehingga masa depan maupun cita-cita mereka akan hilang. Ini harus ada perhatian dan penanganan lebih serius dari pemimpin sebagai pengayom warga khususnya generasi muda bangsa,” terang Bakal Calon Wakil Walikota Surabaya ini.


Menurut SAH, pemahaman pada anak-anak mengenai bahaya narkoba adalah tugas dan kewajiban yang harus diemban oleh beberapa pihak. Selain Pemerintah, pendidikan pemahaman bahaya Narkoba juga harus dilakukan oleh sekolah dan keluarga. Sekolah sebagai pendidik formal dan keluarga sebagai pendidik informal dalam hal ini adalah orang tua, keluarga lain serta lingkungan bermainnya.


Pada pendidikan formal, SAH berharap anak-anak diberikan mata pelajaran khusus tentang bahaya narkoba yang bisa dimasukkan ke dalam satu kurikulum seperti PPKN dan Budi pekerti. Termasuk dalam mata pelajaran agama, pemahaman tersebut wajib dimasukkan. " Jadi kalau orang itu sudah taat beragama atau tahu agama, bisa membedakan mana yang bisa dilakukan, mana yang tidak, mana yang dilarang, mana yang tidak,” jelasnya.


Lanjut SAH, saat ini anak-anak SD dan SMP sudah banyak yang masuk jaringan peredaran Narkoba karena iming-iming uang yang banyak,  dalam arti imbalan yang bisa memuaskan gaya hidup remaja dan akhirnya menjerumuskan mereka ke dunia obat-obat terlarang.


Untuk pendidikan informal, kata SAH, pihak Keluarga dalam hal ini orangtua harus memberikan perhatian lebih kepada anak-anaknya. Contohnya dengan mempererat komunikasi. Karena dengan komunikasi yang baik, orang tua akan mengetahui setiap perubahan perilaku anak-anaknya.


Banyak hal yang bisa dilakukan Orangtua untuk menjalin komunikasi yang baik kepada anak-anaknya. Misal dengan menyiapkan waktu senggang untuk ngobrol. " Orangtua dan anak duduk bisa ngobrol dalam segala hal. Itu bisa menjadi alat komunikasi yang baik untuk mengetahui cara berfikir anak sekaligus apa yang sedang dialaminya,” papar SAH.


Dalam kondisi Pandemi saat ini, SAH mengharapkan peran orang tua semakin ditingkatkan.  Orangtua harus memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang kreativitas positif kepada anak meski mengalami kejenuhan tinggal di rumah. " Bisa melalui mengaji, sholat, sesuai dengan agama masing-masing, dan kegiatan-kegiatan yang lain termasuk olahraga, dan pengembangan hobinya,” tukas Siti Anggraenie Hapsari. (BNW)

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini