BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : Dr. Disiplin F. Manao, SH, MH
Perempuan dimaksud merupakan Taruni Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). Yang mana kini menjadi Politeknik Ilmu Permasyarakatan (Poltekip) . Pertemuan menjadi jalannya Tuhan bagi keduanya. Sebagai sesama fungsionaris Senat, Disiplin sebagai Sekretaris Senat Cakim dan Sorta sebagai seksi Kerohanian Senat Taruna AKIP. Memang keduanya menjalin kerjasama di bidang kerohanian. Setiap Jumat, peserta Diklat Cakim dan AKIP pemeluk agama Islam pergi ke masjid. Sementara yang beragama Kristen dan Katolik berkumpul. Membangun persekutuan doa. Cakim yang beragama Kristen dan Katolik ada 54 orang. Sedangkan Taruna AKIP yang beragama Kristen sebanyak 16 orang. Mulanya melihat perempuan taruni yang kini jadi istrinya biasa saja. Tapi begitu sang taruni jadi song leader pada ibadah bersama, perlahan tapi pasti mulai tertarik. Suaranya bagus, orangnya sederhana dan tidak genit. Memang selama bersama di Pusdiklat antara Peserta Cakim dengan Taruni ada beberapa pasangan yang saling menaruh perhatian. Tidak sedikit juga yang kalau papasan di jalan saling menggoda dengan gaya anak muda, Bahkan ada beberapa yang tampak agak genit. Akan tetapi taruni yang satu ini tidak demikian. Sepertinya bagi dia semua sama rata dan terkesan cuek. Justru inilah yang membuat tantangan tersendiri. Mampu membuat rasa penasaran bergejolak di hati Disiplin.
BACA JUGA: Jiwasraya Terungkap, Lawan Jokowi Dipermalukan, Terjadi Kala Pemerintahan SBY
-
Mencoba melakukan pendekatan. Namun seolah tak ada penerimaan atau sambutan hangat. Selidik punya selidik, rupanya sang taruni ternyata sudah ada yang punya, memiliki pacar. Yang mana pacar sang taruni adalah ketua Senat AKIP sengkatan. Susah juga kalau dibilang. Tapi yang namanya perjuangan, tidak menggoyahkan hatinya. Harus gentle bertarung. Kalau sudah kehendakNya ada saja momen. Yaitu di penghujung Diklat tanggal 20 Desember 1988 dilaksanakan Perayaan Natal Bersama Cakim dan AKIP. Yang mana pada akhir acara dan hendak pulang mengantar Pendeta Pengkhotbah pulang. Eh...... tiba - tiba sang taruni minta ikut pulang ke rumahnya di daerah Kampung Melayu. Karena kurang sehat, gayung bersambut ulam tiba. Selama dalam perjalanan, pendeta banyak memberi tuntunan dan wejangan. Yang mana tentu saja sangat berguna bagi keduanya, sang Cakim dan sang taruni. Pertemuan lanjutan dimulai saat ulang tahun (ultah) mama sang taruni. Yakni tepatnya pada tanggal 22 Desember. Disiplin diawali dengan mengirim rangkaian bunga mawar paginya dan dengan percaya diri juga agak nekat datang ke rumah sang taruni. Yang mana tinggal bersama orang tuanya. Memperkenalkan diri dan ikut acara ulang tahun sang mami. Rupanya tidak segampang yang diharapkan. Ada pro kontra jangankan menikah dengan orang Nias, dekat saja kalau boleh jadi jangan. Terutama bagi keluarga besarnya apalagi pandangan neneknya (opung boru). Bahwa orang Nias diwarnai dengan ilmu hitam, primitive dan terbelakang. Yang mana memang berbeda dengan keluarga sang taruni yang sudah lahir dan besar di kota sudah maju.
BACA JUGA: Haters Jokowi Dipermalukan oleh Fakta Keberhasilan Jokowi
-
Puji Tuhan, kalau jodoh ya tak kemana. Juni 1990. Tepatnya tanggal 30, Sorta dan Disiplin dipersatukan Tuhan dalam pernikahan kudus di Gereja HKBP Tebet. Sebuah perjalanan panjang. Benar kata orang bijak, jodoh ada di tangan Tuhan. Sebenarnya ketika dirinya sudah mulai dekat dengan keluarga terutama dengan mami, dirinya tetap bersikap low profile. Kalau waktu berkunjung tidak menghabiskan waktu hanya untuk ngobrol kesana kemari. Tetapi lebih banyak melakukan kegiatan bersama. Seperti bantu – bantu di rumahnya. Ada sampah ya dibuang. Di belakang rumah, ada kebun yang penuh sampah dan rumput liar ya dibersihkan. Terkadang bantu di dapur, saat sang taruni sedang memasak, dirinya bantu nguleg sambal, peras santan dan iris bawang. Memang soal masak memasak dirinya sudah terbiasa berkat didikan ibundanya (alm). Bahwa baik anak laki maupun anak perempuan harus bisa masak dan mengurus rumah. Lama kelamaan sang taruni menerima dirinya dengan hangat.
BACA JUGA: Inilah Karya Nyata Jokowi Bungkam Lawan Politiknya
-
Ada peristiwa yang sangat mendebarkan. Ketika beberapa keluarga Disiplin datang ke rumah sang taruni untuk berkenalan sekaligus mengutarakan isi hati ke keluarganya. Tak lain untuk melakukan pembicaraan lebih serius dengan sang taruni. Ternyata sang taruni tidak mau keluar dari kamar walaupun sudah beberapa kali dipanggi. Ada dugaan kalau sang taruni menolak. Melihat gelagat dan situasi yang agak tegang, mami masuk kamar. Kedengaran di celah pintu dekat yang mana Disiplin duduk, mami berstatement. Kalau Sorta tidak terima Manao sebagai mantuku, kau bukanlah boruku. Kalimat inilah yang membuat hatinya berbunga – bunga. Setelah taruni Sorta keluar dari kamar, semua menjadi welcome. Semua sumringah senang. Cuma memang perlu persiapan. Siap saja bagi Disiplin. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Begitu datang ke rumah orang Batak, maka akan patuh terhadap tata cara yang berlaku di Batak. Pemberkatan, adat dan resepsi disesuaikan dengan sang perempuan. Dari yang rasanya mustahil dan impossible jadi terealisasi dan possible.
BACA JUGA: Ulang Tahun Jokowi, Nawacitapost Hadir Selaras NAWACITAmu Jokowi
-
Memang ada yang unik dalam perjalanan cinta Disiplin dengan Sorta. Yaitu setelah perkenalan dan persetujuan kedua keluarga. Barulah Disiplin bercerita kalau sudah bertunangan di Nias. Rasanya kaya bom di waktu siang. Tapi sebagai laki - laki harus berkata jujur. Karena memang niatnya akan selesaikan dengan baik dan secara kekeluargaan. Kata pepatan, Datang tampak muka, pergi tampak belakang. Benar, Disiplin datang ke Nias untuk menyelesaikannya. Yakni pertunangan dengan gadis yang sebenarnya masih kerabat dekat. Tidak boleh ada dusta tapi harus ada waktu yang tepat. Semua indah pada waktunya walau dengan risiko pulang kampung. Ternyata sesampai dirinya di kampung Bawomataluo, Nias (sekarang Nias Selatan), bukan penyelesaian yang ada di depan mata. Malahan persiapan pesta pernikahan besar – besaran yang ada. Kedua orang tuanya sudah pula menyiapkan semua kebutuhan pesta. Berupa babi, beras dan lain sebagainya. Lebih dari 30 ekor babi sudah siap. Sehari setelah tiba dari Jakarta, orang tua mengadakan pertemuan intern keluarga dengan potong babi, kemudian lusanya tepatnya pada Hari Minggu seusai pulang gereja akan diadakan pertemuan dua keluarga besar. Seminggu kemudian rencana pernikahan akan dilangsungkan. Mulutnya pun terdiam terkatup tak bisa bicara apapun. Kedua orang tuanya memang sudah melihat didalam kopernya. Ada jas, baju dan sepatu serba baru. Ada pula uang yang dibawa. Yakni sekitar Rp 5 juta. Dirinya pun berdoa. Dirinya datang bukan untuk menikah. Melainkan dirinya ingin menyelesaikan pertunangannya dengan gadis tunangannya.
BACA JUGA: Management Nawacitapost Silaturahmi Berdialog dengan Menteri Sosial Juliari P. Batubara
-
Memang setelah diakui oleh Disiplin, setelah 3 tahun bertunangan, keduanya kurang ada komunikasi. Terlebih memang banyak hal tidak nyambung dengan diantara keduanya. Minggu bertepatan dengan rencana pertemuan dua keluarga besar, keluarga sedang menikmati makan siang usai pulang dari gereja. Tiba – tiba datang dua orang penatua adat, pihak keluarga tunangannya. Datangnya lebih awal satu jam dari waktu pertemuan yang sudah disepakati. Kemudian sesampainya duduk dan memberitahukan suatu berita. Mirisnya, justru membawa berita hoax. Sang ayah pun bertanya sebabnya. Rupanya penatua adat disuruh oleh pak cik atau paman sang tunangannya. Katanya anaknya sudah memiliki istri di Jakarta. Sang ayah sungguh terkejut. Sang ayah sampaikan bahwa keluarga calon besan berhadapan dengan sang ayah dan bukan anaknya (Disiplin). Sontak sang ayah melontarkan kata – kata. Kalau benar saya berbohong walaupun kampung didirikan leluhurnya, siap keluar kampung. Artinya ayahnya memang tidak percaya. Tapi kalau memang sudah begitu pikiran dan perasaan pihak keluarga tunangannya, sang ayah memutuskan tidak ada lagi hubungan apapun. Disiplin sang anak siap dihukum secara adat. Menyerahkan emas dan babi. Yang datang tadi tak lagi ke rumah pak ciknya. Melainkan langsung ke rumah orang tuanya sang calon atau tunangan.
BACA JUGA: Dugaan Kuat, Demo Terorganisir Bagian dari Kelompok Khilafah Targetkan Gulingkan Jokowi
-
Rupanya baru ketahuan kalau kedatangan dua orang penatua adat itupun tidak sepengetahuan orang tua gadis atau tunangan. Menyadari kondisi demikian, pihak keuarga gadis pun dapat memahami keputusan ayahanda Disiplin. Namun memang sang ayah dari Disiplin punya prinsip. Hitam kalau hitam, putih kalau putih. impossible jadilah possible. Pihak orang tua tunangan menerima keputusan keluarga Disiplin. Namun tidak setuju kalau Disiplin dihukum secara adat. Cukup sehelai daun sirih disobek sebagai pertanda hubungan berakhir dengan baik dan damai. Kemudian Disiplin kembali ke Jakarta. Beberapa bulan kemudian dengan kemurahan dan seizin Tuhan terjadilah pernikahan yang didambakannya. Yaitu diantara Disiplin (Cakim) dengan Sorta (Taruni AKIP). Tepatnya Sabtu, 30 Juni 1990. Yang mana tahun ini telah memasuki usia pernikahan ketiga puluh tahun. Kalau Tuhan sudah membuka, maka tidak ada uang bisa menutup. Sejuta cara Tuhan menyatakan kuasaNya. Amin. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Jiwasraya Terungkap, Lawan Jokowi Dipermalukan, Terjadi Kala Pemerintahan SBY