Surabaya NAWACITAPOST - Awal tahun ajaran sekolah tahun 2020-2021 masih menjadi teka-teki terkait sistem yang akan diterapkan.
Memang dalam acuan Surat keputusan bersama (SKB) empat menteri. Diantaranya adalah Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri sudah merumuskan panduan pelaksanaan pendidikan di daerah. Namun setiap pemerintah daerah juga punya kebijakan masing-masing, ungkap Herlina Harsono Njoto anggota komisi D DPRD kota Surabaya.
Melihat kondisi saat ini, menurut Herlina, maka metode pembelajaran menghadirkan siswa secara langsung disekolah sangatlah Riskan. Kenapa ? karena bagaimanapun anak-anak ini harus dijaga keselamatannya.
" Anak-anak ini harus dapat belajar tanpa Khawatir terhadap Virus Covid-19 yang ada diluaran," ujarnya ditemui di gedung DPRD Surabaya. Rabu (24/06/20)
Herlina menceritakan, saat reses kemarin Ia juga menerima beberapa keluhan terkait metode pembelajaran fisik di sekolah. Masyarakat memang sudah terbiasa dengan hal itu, mulai dari hadir di sekolah, berangkat pagi pulang sore. Ketika dirubah menggunakan model daring, di satu sisi kesehatan anak dapat lebih terjaga daripada melepas anak untuk belajar di sekolah. Namun disisi yang lain, perlu dipikirkan metode yang lebih mudah diadaptasi oleh siswa tanpa memberikan beban tambahan untuk orang tua.
" Tidak semua orang tua dapat menemani anaknya belajar dirumah. Nah, ketika dengan metode belajar ala Corono ini (daring.red) untuk siswa yang kelasnya sudah besar mungkin dapat mengoperasinalkan Gadget nya sendiri. Namun bagi siswa yang masih kecil akan memberikan PR (Pekerjaan Rumah.red) tambahan untuk orang tua," papar Politisi Partai Demokrat ini.
Tahun ajaran baru ini dipastikan tingkat kesulitan siswa akan berbeda dari sebelumnya. " Mungkin di akhir tahun ajaran kemarin tidak dihitung (diberikan kemudahan.red), tapi buka step baru ini kan beda," kata Herlina.
" Ini kan harus ditentukan formulanya seperti apa ? Apakah melakukan pembelajaran secara daring kah, atau tetap mengacu pembelajaran secara fisik dan diberlakukan jaga jarak. Yang jelas, keduanya sama-sama beresiko dan tidak mungkin kalau sudah tidak PSBB kemudian sekolah dibuka siswanya jaga jarak ?" ungkapnya.
Bisa dibayangkan, dalam satu kelas di sekolah negri ada 40 siswa. Sementara kapasitas yang bisa dikatakan aman adalah sekitar 10 siswa dalam satu ruangan.
" Ndak mungkin kalau harus dibagi menjadi empat gelombang," katanya.
Dijelaskan, sifat anak tidak seperti orang dewasa dalam mentaati anjuran untuk tidak bersentuhan dan bergerombol.
Jadi, masih Herlina, mau tidak mau pembelajaran model daring saat ini lebih aman untuk anak-anak tapi harus dipertimbangkan agar dapat mudah dalam proses belajar mengajarnya. Keluhan yang ada selama ini adalah masalah Gadget dan pulsa juga pendampingan orang tua. Terlebih Herlina melihat ada kecenderungan menurunnya nilai anak-anak dalam model daring ini. Entah mungkin belum terbiasa dan banyak beban PR.
Sampai hari ini, Herlina menyatakan belum ada sosialisasi atau pemaparan dari Pemkot Surabaya terkait metode pembelajaran di tahun ajaran baru nanti. " Saya pikir Pemkot masih menyelesaikan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru.red) dulu baru kemudian memikirkan yang lain," Pungkas ketua Fraksi Demokrat-Nasdem ini. (BNW)