BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
Foto : Gerakan 212
Berbeda dengan Pilpres tahun lalu, Prabowo sepertinya tidak akan lagi didukung oleh partai lain. Yakni jika terbukti memang maju kembali sebagai Capres 2024. PKS pada 2014 dan 2019 selalu berada di front terdepan mendukung Prabowo. Kini enggan atau menolak mendukung kembali. PKS memilih mengajukan kadernya sendiri sebagai capres. Pihaknya akan berupaya untuk mencalonkan capres yang berasal dari kader sendiri. Tentu sebagai dalih tidak mengajukan kader nama Prabowo Subianto. PKS akan membuat keputusan melalui Majelis Syuro. Tiap partai selalu berusaha memajukan kadernya. Demikian dikatakan Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera pada 11 Juni 2020.
BACA JUGA: Yasonna Laoly Ketagihan Gowes, Lebih Merakyat, Dikasih Reward dari Jokowi
-
Tak hanya PKS yang enggan atau menolak mendukung kembali Prabowo. Persaudaraan Alumni (PA) 212, para kelompok awalnya bergabung dalam Aksi 212.. Kemudian lantas ikut mendukung Prabowo pada Pilpres 2019. Nantinya Prabowo sudah selesai atau finish. Justru kini juga tak mau lagi mendukungnya. Biarkan Prabowo menikmati dan menyelesaikan tugasnya sebagai Menhan (Menteri Pertahanan). Ketimbang maju lagi sebagai capres, lebih baik menjadi seorang negarawan. Membiarkan adanya calon presiden baru dan muda untuk memimpin Indonesia. Yakin 2024 saatnya yang muda untuk pimpin negeri. Apalagi umat punya catatan sendiri kepada Prabowo yang susah untuk dilupakan di 2019. Dijelaskan oleh Ketua Umum PA 212, Slamet Maarif.
BACA JUGA: Ulang Tahun Jokowi, Menkumham Yasonna Laoly Tarik Pelajaran Berharga dari Sang Presiden
-
Pengamat politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, memprediksi. Prediksinya akan sulit bagi Prabowo menang dalam kontestasi. Mengagetkan juga kalau Prabowo Subianto 2024 mau maju lagi. Analisisnya dengan satu alasannya. Lantaran memang karena keputusan Prabowo Subianto bergabung dengan koalisi pemerintah. Terlebih dengan menjadi Menhan. Akan kehilangan banyak suara akibat keputusannya. Meski demikian, juga menilai Prabowo akan menjadi orang yang paling berpengalaman. Terutama jika turut serta dalam kontestasi politik 2024. Pastinya akan berpengaruh besar. Sekarang meninggalkan ranah oposisi menjadi koalisi. Nah otomatis kan mengecilkan suara pemilihnya. Juru Bicara Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan pada 21 Oktober 2019. Yakni mengenai alasan Prabowo Subianto menerima tawaran Presiden Jokowi menjadi Menhan. Jabatan Menhan memang merupakan kompetensi Prabowo Subianto. Termasuk soal kekhawatiran terhadap situasi keamanan di Indonesia. Prabowo Subianto pun sempat menyinggung permasalahan Papua kepada Jokowi. Prabowo akan menerima porsi menteri jika Gerindra bisa berkontribusi maksimal kepada negara. Tentu saja tetap sesuai dengan kapasitas Gerindra.
BACA JUGA: Jokowi Dianggap Pro China, Luhut Bantah Investasi China Justru Menguntungkan
-
Dulu dieluhkan Prabowo Subianto paling segalanya dan terbaik dari Jokowi. Membela habis - habisan dalam Pilpres 2019. Namun justru usai masuknya Prabowo Subianto untuk berkoalisi, tiba - tiba menjadi lempem untuk dukung kembali. Bahkan, adanya ketegasan menolak halus untuk menjadikannya kader Pilpres 2024 dengan berbagai alasan. Tapi, memang agak sedikit mengherankan. Sebelumnya diberitakan, surat edaran tertanggal 17 September 2018. Dalam surat tertera keterangan bahwa untuk membangun coattail effect atau efek ekor jas terhadap Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, anggota Fraksi PKS diminta memberdayakan sumber daya. Tentu yang dimiliki dan menginisiasi serta mengoptimalkan kampanye. Ada keuntungan tersendiri jika PKS mengoptimalkan kampanye. Diujarkan oleh Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin pada 22 Oktober 2018. Lantas jika demikian alasannya, tujuan 212 dan PKS dipertanyakan. (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Yasonna Optimis Azas Pancasila Partai Gelora Meraih Dukungan, Ancaman Bagi PKS, PPP dan Demokrat Pemilu 2024