BACA JUGA: Yasonna Sembari Lantik Pejabat Eselon II Kemenkumham, Ajak Sukseskan New Normal
Foto : SBY, Mantan Ketum Partai Demokrat
Para senior Partai Demokrat gelisah melihat masa depan partainya. Tak pelak terpaksa menggelar rapat. Tidak resmi, dibalut silaturahmi. Terselenggara pertemuan para senior saling bertukar pikiran mengungkap kegusaran. Terlebih melihat kondisi terkini partai berlambang bintang Mercy Demokrat. Terjadilah sepakat. Jika tak dipikirkan serius, bukan tidak mungkin Demokrat tinggal sejarah. Kelompok senior sampai iuran untuk bayar makan di restoran tempat rapat. Sesekali, satu orang yang menanggung biaya makan rapat informal. Masing-masing curhat (curahan hati) tentang kondisi prihatin Demokrat. Bahkan, gaya kepemimpinan SBY di Partai Demokrat menjadi salah satu topik bahasan para senior.
BACA JUGA: 67 Tahun Yasonna Laoly : Bermakna, Berkesan dan Berpesan bagi Semua. Berikut Testimoni Para Tokoh !
-
Semenjak partai diambil alih SBY, sistem yang berjalan di internal mulai goyah. Senior Demokrat, Achmad Mubarok mengatakan kepada awak media belum lama. Dirinya belakangan rutin bertemu dengan kelompok yang resah dengan masa depan partai. Terakhir, para senior berkumpul Jumat 6 Maret lalu di satu tempat. Namun memang, dirinya menolak membocorkan, nama para senior yang berkumpul. Selama ini, para senior memilih mundur teratur dari lingkaran kekuasaan partai. Apalagi, SBY kini tampak dikelilingi oleh kelompok yang dinamai oleh Mubarok sebagai penjilat. Ditambah, para senior juga tidak sampai hati untuk mengkritik kepemimpinan SBY.
BACA JUGA: Yasonna, Wajah Nias Batak, Ayahnya Pernah Dagang Minyak Goreng
-
Masalah bertambah pelik, saat Mubarok melihat SBY bukan tipe orang yang pandai mengkritik. SBY disebut lebih memilih merangkul, tidak suka menjadi oposisi dalam bersikap. Lima sampai 10 orang para senior kemudian melihat momentum Kongres Demokrat 2020. Kongres Demokrat dirasa waktu yang tepat untuk memperbaiki partai. Bukan untuk melawan SBY, tapi untuk mencari alternatif kepemimpinan. Tentunya ditujukan nasib partai ke depan. Tujuannya satu, Demokrat kembali ke khittah. Sebelumnya sempat ramai nama mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo sebagai salah satu calon alternatif di Kongres Demokrat. Gatot didorong menjadi kandidat calon Ketum Demokrat oleh salah seorang pengurus DPP partai. Wacana bergulir di lingkungan dan diluar partai Demokrat.
BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?
-
Wakil Ketum Demokrat, Syarief Hasan menepis wacana. Yakni wacana Gatot disorongkan sebagai kandidat Ketum partainya. Dia menegaskan, tidak ada sama sekali wacana demikian. Lantas Plt Ketua DPD Partai Demokrat Sumut, Herri Zulkarnain mengiyakan wacana yang ditepis Waketum Demokrat. Bahkan, Senior Partai Demokrat Max Sopacua melihat dari sisi berbeda. Dia menilai, sangat mungkin nama Gatot Nurmantyo maju di kongres sebagai kandidat Ketum Demokrat. Sayangnya AHY telah terpilih sebagai Ketua Umum (ketum) Partai Demokrat secara aklamasi.
BACA JUGA: Artis Cilik Indonesia Bersuara Khas, Kobarkan Segarkan Bangkitkan Tagline Nias Pulau Impian
-
Keyakinan Mubarok calon lain di luar AHY-Ibas bukan abu – abu lagi. Sebelumnya calon yang sudah disiapkan oleh para senior mulai bicara. Belum lama aklamasi AHY terpilih, publik dikejutkan oleh Muhammad Subur Sembiring, salah seorang pendiri deklarator partai Demokrat. Secara sepihak dirinya mendeklarasikan sebagai Pelaksana Tugas Ketum Partai Demokrat dalam video yang diunggah akun YouTube Ludfi Official. Dia mengatakan mengambil alih kepemimpinan Partai Demokrat dari AHY. Awalnya, dia mempertanyakan SK Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) melalui Yasonna Laoly. Tak lain mengenai susunan pengurus Partai Demokrat yang dipimpin AHY. Dirinya meminta penjelasan secara konkrit.
BACA JUGA: Kuliah Ikatan Kedinasan Poltekip Poltekim Kemenkumham Segera Dibuka, Buruan Persiapkan Diri dan Daftar!
-
Rupanya, dirinya masih melanjutkan lagi. SK dari Kemenkumham dibutuhkan untuk pencairan dana bantuan partai politik. Lebih buruknya, mengklaim kursi Ketum masih kosong setelah ditinggalkan SBY. Kepengurusan Partai Demokrat kosong. Sudah diambil alih olehnya. Secara de facto, dirinya sudah menjadi Ketumnya. Secara de jure, dirinya akan lakukan kongres segera. Dimungkinkan usai PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar ) pada 4 Juni 2020 mendatang. Dia pula akan memperjuangkan Partai Demokrat bisa ikut pilkada dan proses politik. Yakni untuk bersama - sama menyukseskan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah). (Ayu Yulia Yang)
BACA JUGA: Si Kurang Senyum Moeldoko, Tak Pernah Lipat Jari Tangan, Naik Kereta Gratis, Ditangkap Kondektur