Senin, 8 Juni 2026

Flobamora Menggugat: Kala Alarm Krisis Iklim Berdentang di NTT dan Perempuan Menolak Dibungkam

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Senin, 8 Juni 2026 | 09:40 WIB

NAWACITAPOST.COMNusa Tenggara Timur (NTT) sedang berada di titik nadir. Di balik keindahan bentang alam karst dan savananya, sebuah tragedi kemanusiaan dan ekologis sedang berlangsung senyap namun mematikan. Krisis iklim di tanah Flobamora bukan lagi sekadar dongeng tentang ramalan cuaca atau kenaikan suhu global; ia telah menjelma menjadi monster ketidakadilan struktural yang menggilas ruang hidup, merampas kedaulatan, dan menempatkan kaum perempuan di garis depan penderitaan.

Menjawab lonceng kematian ekologis ini, Solidaritas Perempuan Flobamoratas menggelar sebuah webinar monumental dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, pada Minggu (7/6/2026).

Bertajuk “Alarm Krisis Iklim: Perspektif Feminis atas Pembangunan, Transisi Energi, dan Masa Depan Ruang Hidup di NTT”, forum ini menjadi panggung perlawanan yang membongkar ironi di balik narasi-narasi "pembangunan" dan "transisi energi" yang selama ini dipuja-puji di ruang sidang korporasi.

Baca Juga: Hukum Tebang Pilih? Nestapa Samian, Tukang Siomay yang 'Terjebak' Status Tersangka Selama Setahun!

Ketika Alam dan Perempuan Menanggung Beban Berlapis

Krisis iklim global berwujud nyata di NTT melalui kekeringan ekstrem yang membakar lahan, krisis air bersih yang mencekik, dan hancurnya produktivitas pertanian. Dampaknya tidak pernah netral gender. Ketika sumber air mengering dan pangan langka, beban kerja domestik dan perawatan kehidupan (care work) jatuh sepenuhnya ke pundak perempuan. Mereka harus berjalan lebih jauh demi seteguk air dan memutar otak lebih keras demi sepiring nasi untuk keluarga.

Saat bumi tak lagi ramah, migrasi paksa menjadi jalur keputusasaan. Perempuan-perempuan NTT terdorong meninggalkan kampung halaman, melangkah menuju ruang-ruang baru yang sarat akan risiko eksploitasi, kekerasan, hingga perdagangan orang.

"Krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan relasi kuasa yang menghasilkan ketimpangan gender, kemiskinan, dan ketidakadilan pembangunan," demikian suara lantang yang menggema dalam webinar tersebut.

Tiga Suara dari Garis Depan Pertempuran Ekologis

Webinar ini menghadirkan tiga aktivis perempuan yang dengan berani menguliti karut-marut kebijakan yang sedang mengepung NTT:

Baca Juga: Waduh! Hukum Jungkir Balik Di Bandar Lampung: Satu Tragedi, Dua Laporan, Korban Malah Jadi Tersangka!

1. Magdalena Eda Tukan (Koalisi Kopi): Kedaulatan Pangan di Bawah Bayang-Bayang Korporasi

Dari Flores Timur, Magdalena Eda Tukan membawa saksi bisu bagaimana perempuan adalah penjaga peradaban yang merawat benih lokal dan pengetahuan tradisional secara turun-temurun demi bertahan dari perubahan iklim.

Namun, ruang hidup mereka kini dikepung oleh ambisi transisi energi skala industri. Eda mengecam keras proyek-proyek ini karena berjalan tanpa pelibatan masyarakat yang bermakna. Lebih tragis lagi, ancaman industri ini datang di saat masyarakat Flores Timur, khususnya kaum perempuan, belum pulih dari trauma dan dampak dahsyat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki.

  • Beban Ganda: Memastikan pangan dan air di tengah abu vulkanik.

  • Ancaman Struktural: Kehilangan tanah adat akibat proyek energi yang diklaim "hijau".

2. Horiana Yolanda (WALHI NTT): Ironi Pulau Kecil yang Dikepung Pembangunan Ekstraktif

Horiana Yolanda memetakan kerentanan geografis NTT yang berada di cincin api (Ring of Fire). Dengan curah hujan rendah dan ekosistem pulau kecil yang rapuh, NTT secara alami rentan terhadap banjir, longsor, dan kekeringan.

Anehnya, wilayah yang rapuh ini justru dihantam oleh ekspansi investasi ekstraktif yang masif:

Halaman:

Editor: Tiarsin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini