Siapa yang tidak kenal Rocky Gerung yang menobatkan dirinya sendiri sebagai seorang filsuf (pecinta kebijaksanaan) yang mengusung idiom #akalsehat untuk membuktikan eksistensi dirinya. Sesungguhnya, dalam pelbagai orasi ilmiah saat berbicara tentang filsafat, Rocky Gerung sangat terkait dengan paham sinisme Diogenes dari Snope yang menganut hidup dan berperilaku antitesa terhadap realitas yang ada.
Baca Juga: Jihad Prof. Yasonna Laoly dalam RUU KUHP
Kaum sinisme layaknya Rocky Gerung sesungguhnya tidak pernah menjadi mazhab filsafat formal; juga, tidak pernah mempunyai, dan tidak pernah dapat memiliki, bangunan sekolah filsafat secara fisik; demikian juga tidak akan pernah memiliki doktrin filsafat. Tetapi para “filsuf” yang menganut aliran ini meyakini bahwa Sinisme memuat semacam proyek filsafat. Plato menjulukinya aliran ini sebagai "Socrates yang gila"
Kata-kata seperti sinis, sinisme, mempunyai konotasi negatif (peyoratif) terhadap kemurungan, pesimisme, keraguan, peremehan; penghinaan terhadp pendapat orang lain; tidak yakin akan hal-hal ideal dan kemanusiaan. Sinisme juga dianggap sebagai suatu keyakinan bahwa manusia melulu terpusat pada diri sendiri, munafik, tidak tulus, dan hanya baik kepada diri sendiri.
Sebagai penganut perilaku pragmatis dalam mencapai tujuan, Rocky mengabaikan tahapan-tahapan berpikir formal dan menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan berpikit. Bagi penganut sinisme, tidak ada satupun hal yang patut dibanggakan. Bagi mereka semua adalah masalah dan dari masalah mereka berusahan untuk tetap membangun eksistensinya. Inilah ciri khas sinisme sejati. Hal yang sama juga berlaku pada Rocky yang memang setengah matang dalam mempelajari filsafat. Ibarat daging setengah matang, yang tempatnya layak di tong sampah.
Kali ini Rocky dengan sengaja membuat status kontroversial di Medsos (twitter) dengan menghina secara personal tokoh marga Nias bermarga Laoli. Dalam ciutannya, Rocky mengatakan “Aku punya anjing kecil kuberi nama laoli, dia senang bermain-main harun namanya. Laoli kemarin gug gug gug! #AkalSehat @RGFansclub2019.
Terlepas dari sikap kritis yang didewakan oleh Rocky Gerung, Rocky harusnya sadar bahwa dia telah membelakangi sebuah keadaban timur yang sarat dengan kesantunan dalam berpikir dan bertindak. Rocky Gerung seolah berada di dunia lain di luar NKRI.
Gelar prof yang ditabalkan oleh pendukungnya dan ditelan bulat-bulat oleh si Rocky merupakan sebuah antitesa berpikir yang mengundang pertanyaan mendalam, siapakah Rocky Gerung sang Pendaki tangga sosial media itu?
Baca Juga: Romantika Surga yang Memabukkan
Dari beberapa narasi pemberitaan media yang mengulas sosok Gerung, dia tidaklah lebih dari sosok seorang garong yang jago mencuap-cuap soal fakta yang ada. Isu-isu sentral menjadi santapan si garong gerung yang memang ahli dalam merangkai kata dan memiskinkan peran #akalsehat sebagai tag kebenaran yang ia promosikan.
Sikap antitesa berpikir yang ditunjukkan oleh si Gerung yang Garong menciderai prinsip-prinsip berpikir lurus dalam filsafat yang mengedepankan kebijaksaan dalam berpikir dan bertindak. Gerung tidak lebih sebagai “pemerkosa” ilmu filsafat dalam arti yang sesungguhnya.
Sebagai pengagum sinisme dalam bertindak, Gerung lihai memanfaatkan situasi tersebut untuk menarik simpati publik yang memang pada hakikatnya masih berjuang untuk bertahan hidup dari-hari ke hari. Dan Gerung menari-nari di atas euforia itu dengan menciptakan konsep-konsep berpikir terbalik layaknya kampret yang diduga penyebab utama virus corona.
Pernyataan terbuka Gerung dalam tweetnya terhadap marga atau kelompok suku di Nusantara (Khususnya Suku Nias) merupakan sebuah pernyataan sikap terbuka Gerung yang memang sudah hilang rasa kemanusiaannya dalam menyalurkan hasrat kebenciannya pada person yang ia tidak sukai dengan menggeneralisir pernyataan sikapnya. Hal ini bukanlah sebuah metodologi dalam filsafat dalam mencerahi keadaan yang mungkin “chaos” menurut perspektif sempit dirinya sendiri.
Gerung secara terang-terangan sudah keluar dari jalur berpikir normal. Maka tepat pendapat Plato yang mengatakan bahwa penganut sinisme layaknya Gerung adalah socrates yang gila yang sedang mencari panggung.
Secara psikologi, Gerung sudah menunjukkan sebuah kenyataan yang menyeret kelurusan berpikir dalam filsafat ke dalam jurang kehampaan yang ditakutkan oleh filsuf sejati seperti Socrates. Bagi saya pribadi, Gerung adalah Garong yang yang memang sengaja mencari momen untuk sekedar eksis untuk hidup. Boleh jadi untuk mengganjal perut yang sudah mulai kosong sejak jagoannya kalah dalam kontestasi demokrasi beberapa waktu yang lalu.
Garong, eh Gerung bertobatlah...