"Pada bulan Juni 2019, sebagian pelaku pasar melihat kemungkinan penurunan suku bunga The Fed guna mendorong ekonomi AS. Hal ini berimplikasi pada meningkatnya aliran modal ke pasar negara berkembang dan mendorong penguatan nilai tukar di EM," ungkap Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta, Jumat 21/6/2019, dikutip Sindonews.com, kemarin.
Berdasarkan data asumsi dasar ekonomi makro tahun 2020, diprediksi bahwa nilai tukar rupiah akan berada pada posisi Rp14.000-15.000,00 per USD.
"Adanya penurunan potensi kenaikan FFR di tahun 2019 bahkan spekulasi penurunan suku bunga the Fed, mendorong kecenderungan investor untuk berinvestasi di luar pasar AS guna mendapatkan yield yang lebih tinggi," lanjut Srimulyani sesuai dikutip Sindonews.com
Sri juga berharap akan ada kesepakatan antara Presiden Donald Trump dengan Presiden Xi Jinping di KTT G20 minggu depan sehingga dampak perang dagang bisa mereda.
Di bagian lain, indeks komposit pasar saham global (MSCI Index) masih menunjukkan peningkatan dari awal 2019, menunjukkan minat yang masih besar dari investor pada pasar saham.
(ANT)