nasional

Nilai Transaksi Ojol di Indonesia Tembus US$9 Miliar pada 2024

Kamis, 14 November 2024 | 16:04 WIB
Ilustrasi ojek online (ojol). (X)

NAWACITAPOST.COM - Sektor transportasi online, atau yang lebih dikenal sebagai ojek online (ojol), mengalami peningkatan signifikan pada tahun 2024. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2024 terbaru yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai transaksi di sektor ini mencapai US$9 miliar atau sekitar Rp141,9 triliun.

Angka ini menunjukkan pertumbuhan 13% dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai US$7 miliar. Peningkatan ini, menurut Partner Bain & Company, Aadarsh Baijal bukan disebabkan oleh melonjaknya penggunaan kendaraan listrik.

Faktor utama yang mendukung kenaikan ini adalah bertambahnya jumlah pengemudi serta kenaikan harga layanan aplikasi. “Saya tidak tahu kalian di sini merasa hal yang sama, tapi harga layanan ride hailing (Gojek dan Grab) ini sudah naik sedikit,” kata Aadarsh, dikutip Kamis (13/11/2024).

Baca Juga: Stasiun Kereta Api Tersibuk di Indonesia 2024Baca Juga: Stasiun Kereta Api Tersibuk di Indonesia 2024

Aadarsh menambahkan bahwa saat ini, kompetisi di antara penyedia layanan ride hailing seperti Gojek dan Grab masih sengit, yang menyebabkan variasi harga bagi pelanggan. Meski demikian, ia mencatat bahwa pemain di sektor ini telah berhasil mencapai titik balik modal setelah beberapa tahun menawarkan diskon untuk menarik pelanggan di masa awal operasional.

Salah satu faktor lain yang turut mempengaruhi kenaikan nilai transaksi adalah fluktuasi jumlah pengemudi pasca-pandemi Covid-19. Jumlah pengemudi yang lebih sedikit setelah pandemi menyebabkan perbedaan biaya bagi pengemudi serta harga yang diterapkan kepada pelanggan.

“Dalam jangka pendek, dua faktor ini sebenarnya membantu kebangkitan sektor ini. Jumlah pengemudi yang cukup bisa melayani permintaan besar dan karena keadaan membaik, harga kembali naik,” ucapnya.

Dengan situasi ekonomi yang semakin stabil, tarif yang lebih tinggi dianggap sebagai hal yang wajar oleh konsumen.
Tidak hanya sektor transportasi online, ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan diperkirakan mencapai Gross Merchandise Value (GMV) sebesar US$90 miliar atau setara dengan Rp1.420 triliun pada tahun 2024.

Baca Juga: Prabowo Usulkan Solusi Dua Negara untuk Redam Konflik Israel-Palestina

Angka ini juga menunjukkan peningkatan sebesar 13% dibandingkan dengan tahun 2023. Menurut Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, pertumbuhan ekonomi digital yang kuat di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor.

“Indonesia tetap menjadi negara dengan perekonomian digital terbesar di Asia Tenggara, dan diperkirakan tahun ini akan berakhir di sekitar US$90 miliar. Jadi masih kuat dan masih bertumbuh 13% meskipun ukurannya sudah sangat besar,” kata Veronica

Pada tahun 2024, sektor ini diperkirakan tumbuh 11% dan mencapai GMV sebesar US$65 miliar. Diikuti oleh sektor online travel serta transportasi dan makanan, masing-masing menyumbang sekitar US$9 miliar. Terakhir, sektor media online diperkirakan berkontribusi sebesar US$8 miliar.

Tags

Terkini