nasional

Tanda-tanda Heran pada Pelantikan DPW Papua dan DPW Papua Pegunungan di Jayapura

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:23 WIB
Ketua Umum PASTI bersama pengurus DPP, Pengurus DPW Papua, DPW Papua Pegunungan

NAWACITAPOST.COM – Setelah menyelesaikan pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Sulawesi Selatan dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kota Makassar pada Jumat malam, 23 Oktober 2026, rombongan Dewan Pimpinan Pusat Partai Setara Indonesia (DPP PASTI) yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum bergegas menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Rombongan kemudian bertolak ke Jayapura pada Sabtu dini hari, 24 Oktober 2026, pukul 00.30 WITA.

Sukacita setelah pelantikan di Makassar dan semangat membangun kepengurusan yang kuat di Tanah Papua mengalahkan rasa lelah yang dirasakan rombongan. Mereka terdiri atas Ketua Umum Ruyandi Hutasoit, Sekretaris Jenderal Dwi Urip Premono, Ketua Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi Otoli Zebua, serta Wakil Bendahara Umum Ria Hutasoit.

Pesawat yang membawa rombongan mendarat di Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, sekitar pukul 06.30 WIT pada Sabtu pagi. Setibanya di pintu kedatangan, mereka disambut dengan tarian tradisional khas Suku Sentani.

Para penari mengenakan busana adat Papua, mengiringi penyambutan dengan tabuhan tifa dan nyanyian tradisional. Sementara itu, Ketua DPW PASTI Papua, Roberth Maryen, memasangkan penutup kepala dan kalung adat kepada para tamu kehormatan.

Baca Juga: Pelantikan Pengurus DPW Sulawesi Selatan dan DPC Kota Makassar: Penuh Suka Cita dan Semangat Siap Bekerja

Prosesi penyambutan tersebut menarik perhatian para pengunjung di area kedatangan bandara. Setelah acara selesai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Hotel @Hom di kawasan Abepura.

Perjalanan sekitar 40 menit itu terasa singkat karena diwarnai kesaksian iman yang disampaikan Roberth Maryen tentang pergumulan yang dialaminya menjelang pelaksanaan kegiatan.

Hampir Putus Asa, tetapi Pertolongan Tuhan Datang

"Saya hampir putus asa ketika dana belum tersedia menjelang hari pelaksanaan kegiatan. Saya sudah berdoa berulang kali, tetapi belum juga ada tanda-tanda apa pun. Anak-anak saya di rumah sempat mengingatkan supaya saya tenang. Namun, mana mungkin? Pikiran saya terus berkecamuk," kata Roberth mengawali kesaksiannya.

Ia mengaku keraguan semakin menguasai hatinya. Bahkan, sempat terlintas keinginan untuk kembali ke Biak guna menghindari rasa malu apabila kegiatan tersebut tidak terlaksana sesuai rencana.

"Saya sempat berpikir untuk pulang ke Biak demi menghindari rasa malu. Saya juga beberapa kali tidak mengikuti program pembekalan rohani melalui Zoom karena mengantisipasi kemungkinan rasa malu itu benar-benar terjadi. Saya bermaksud menghilang secara perlahan," lanjutnya.

Namun, di tengah pergumulan tersebut, keadaan mulai berubah. Kekecewaan ketika mendapati harga hotel pertama yang dinilai terlalu mahal justru berujung pada penemuan hotel kedua dengan fasilitas yang lebih baik dan harga yang lebih terjangkau.

Persoalan berikutnya muncul ketika tiba waktunya melakukan pembayaran. Roberth kembali berdoa, berharap ada jalan keluar bagi kebutuhan kegiatan yang masih harus dipenuhi.

"Ketika tiba waktunya membayar, saya berdoa lagi. Saya berpikir, mungkin ini doa terakhir saya untuk pelaksanaan kegiatan sebelum akhirnya saya pulang ke Biak," ujarnya sambil tertawa mengenang peristiwa tersebut.

Di tengah situasi itu, Roberth teringat perkataan seorang misionaris asal Belanda yang dikenal berjasa dalam pemberitaan Injil di Tanah Papua, Domine Izaak Samuel Kijne.

Halaman:

Tags

Terkini