Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan bahwa literasi keagamaan lintas budaya menjadi contoh pendekatan pendidikan yang efektif dari Indonesia untuk mengatasi intoleransi.
Baca Juga: Deteksi Dini Bulan Ramadhan, Kalapas Samarinda dan Jajaran Kembali Geledah Blok Hunian WBP
Program pelatihan LKLB yang telah melibatkan lebih dari 7.000 pendidik di 34 provinsi di Indonesia dalam kurun waktu kurang dari 2,5 tahun, semakin mendapat perhatian dunia internasional di tengah meningkatnya masalah intoleransi global.
Dalam diskusi panel tersebut, panelis lain dari berbagai negara menyambut positif inisiatif Indonesia dalam mendorong literasi keagamaan lintas budaya. Mereka bahkan berharap dapat bekerja sama dalam mengadopsi program-program serupa di negara masing-masing.
Dengan peran yang semakin meningkat dalam mempromosikan toleransi dan penghormatan terhadap perbedaan, Indonesia terus berkomitmen untuk membangun dunia yang lebih damai dan inklusif. (****)