NAWACITAPOST.COM - Duta Besar Achsanul Habib, yang menjabat sebagai Deputi Perwakilan Tetap RI untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, telah menggarisbawahi pentingnya literasi keagamaan lintas budaya sebagai bagian dari pendidikan lintas agama. Hal ini sebagai langkah dalam mengatasi berbagai bentuk intoleransi dan prasangka beragama yang menjadi tantangan utama di dunia saat ini.
Dalam sebuah acara tambahan (side event) di sela-sela Sidang Dewan HAM PBB ke-55 di Jenewa pada Selasa (12/3/2023), Dubes Habib menyampaikan pentingnya peningkatan literasi keagamaan lintas budaya dan pendidikan hak asasi manusia dalam membentuk lingkungan yang menolak intoleransi dan prasangka agama.
“Pada saat ini, peningkatan literasi keagamaan lintas budaya dan pendidikan hak asasi manusia memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan yang menolak segala bentuk intoleransi dan prasangka beragama,” kata Dubes Habib saat menyampaikan sambutan pembuka.
Baca Juga: Pj Gubernur Banten Al Muktabar Sambut Kedatangan Wapres KH Ma’ruf Amin di Ponpes An-Nawawi Tanara
Tema yang diangkat, "Peran Literasi Keagamaan Lintas Budaya dan Pendidikan Hak Asasi Manusia dalam Memerangi Intoleransi, Stereotip Negatif, dan Stigmatisasi Berdasarkan Agama dan Kepercayaan", sejalan dengan Resolusi Dewan HAM PBB 16/18.
Dalam sambutannya, Dubes Habib menyatakan bahwa peningkatan kasus pelanggaran HAM terhadap individu berdasarkan agama atau kepercayaan di seluruh dunia menunjukkan relevansi tema tersebut.
“Kegagalan untuk mengatasi masalah mendesak ini akan membawa kita ke jalur yang lebih berbahaya menuju ketidakamanan dan konflik seperti yang telah diajarkan sejarah selama beberapa dekade,” katanya.
Baca Juga: AP ll BIM Salurkan Bantuan Korban Banjir Pessel dan Pariaman
Selain intoleransi, anggota kelompok agama dan penganut agama di seluruh dunia juga menghadapi kebencian, diskriminasi, dan kekerasan setiap hari. Oleh karena itu, peningkatan literasi keagamaan lintas budaya sangat penting untuk membangun penghargaan terhadap perbedaan agama dan keyakinan, serta untuk mengurangi ketidakpedulian dan kesalahpahaman yang memperkuat intoleransi dan prasangka.
Acara tersebut diinisiasi oleh Dubes Achsanul Habib bersama Perwakilan Tetap Republik Gambia untuk Kantor PBB dan organisasi internasional lainnya di Jenewa, Duta Besar Muhammadou M.O. Kah.
Acara tersebut dimoderatori oleh Prof. W. Cole Durham, Jr., Presiden Asosiasi Forum Lintas Agama G20, dengan peserta berasal dari perwakilan pemerintah negara-negara asing, organisasi internasional, dan masyarakat sipil di Jenewa.
Baca Juga: Deteksi Dini Bulan Ramadhan, Kalapas Samarinda dan Jajaran Kembali Geledah Blok Hunian WBP
Dubes Habib juga menegaskan bahwa literasi keagamaan lintas budaya telah menjadi bagian integral dari kebijakan luar negeri Indonesia. Melalui dialog antaragama yang telah terjalin dengan 34 negara mitra secara bilateral, Indonesia mempromosikan pentingnya saling penghargaan antarumat beragama.
Lebih lanjut, Indonesia memprakarsai Jakarta Plurilateral Dialogue (JPD) pada Agustus 2023, dan melaksanakan Konferensi Internasional tentang Literasi Keagamaan Lintas Budaya pada November 2023, sebagai upaya nyata dalam mendorong masyarakat yang damai dan inklusif.
Artikel Terkait
Deteksi Dini Bulan Ramadhan, Kalapas Samarinda dan Jajaran Kembali Geledah Blok Hunian WBP
Ombudsman RI Perwakilan Banten: Lapas Pemuda Tangerang Sudah Memberikan Pelayanan Terbaik
AP ll BIM Salurkan Bantuan Korban Banjir Pessel dan Pariaman
Gawat! Tiga Caleg Terpilih Gerindra Dipanggil Bawaslu Surabaya
Pj Gubernur Banten Al Muktabar Sambut Kedatangan Wapres KH Ma’ruf Amin di Ponpes An-Nawawi Tanara