Di tengah situasi yang nyaris tidak terkendali, AN akhirnya keluar dengan wajah yang tertutup rapat oleh handuk berwarna oranye. Ia berjalan tertunduk, berusaha menghindari tatapan tajam warga, didampingi oleh DEP yang kini harus menanggung malu atas skandal yang meruntuhkan citranya sebagai penegak hukum.
Baca Juga: Darurat Kekerasan Seksual di Lingkungan Kampus: Gelombang Skandal Guncang UI, ITB, IPB, dan UNPAD
Misteri dan Bungkamnya Otoritas
Keduanya segera digiring menuju Provos Polres Nganjuk untuk menjalani pemeriksaan intensif. Namun, proses penyidikan awal ini dibalut dengan tirai ketertutupan. Kasi Provos Polres Nganjuk, AKP Heri Buntoro, yang berada di lokasi kejadian, enggan memberikan keterangan mendalam.
"Nanti saja, ini masih proses," jawab Heri dengan singkat, berusaha menghindari kejaran pertanyaan awak media.
Ketika didesak mengenai identitas oknum polisi tersebut, Heri memilih untuk bungkam dengan alasan yang memicu spekulasi lebih lanjut. "Belum tahu," ujarnya singkat.
Baca Juga: Benteng Pertahanan di Gerbang Utara, Imigrasi Belawan Tabuh Genderang Perang Lawan Sindikat TPPO!
Jawaban yang terkesan mengaburkan fakta ini sontak memicu respons keras dari warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut. Publik merasa dikhianati oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayom, namun justru terjebak dalam skandal asmara terlarang.
Kasus ini kini menjadi sorotan tajam, mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap integritas dua instansi besar di Kabupaten Nganjuk. Apakah kebenaran akan dibuka sepenuhnya, ataukah skandal ini akan berakhir di balik pintu tertutup kepolisian? Masyarakat menunggu transparansi penuh.