NAWACITAPOST.COM - Sejak rencana pemindahan ibu kota Negara (IKN) Indonesia ke Kalimantan Timur diumumkan, berbagai tanggapan dan langkah seremonial telah menyertai perjalanan menuju Nusantara, nama baru yang dipilih untuk ibu kota negara.
Menurut survei KedaiKOPI pada Agustus 2019, mayoritas warga Jakarta menunjukkan penolakan terhadap rencana tersebut, namun pemerintah tetap melanjutkan upaya pemindahan sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar pulau.
Pada rapat panitia khusus pada 17 Januari 2022, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Suharso Monoarfa, mengumumkan nama resmi ibu kota baru, yaitu Nusantara.
Baca Juga: Beli LPG 3kg harus setor KTP! Berikut Enam Kebijakan Pemerintah Mulai Januari 2024
Keputusan ini diambil setelah pertimbangan mendalam dan mempertimbangkan makna luas yang melibatkan sejarah dan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan.
Dikutip dari beberapa sumber dan wikipedia, langkah berikutnya dalam proses pemindahan ini terlihat dalam pelantikan Bambang Susantono sebagai kepala otorita.
Seremonial ini diikuti dengan pengiriman sebidang tanah dan air dari masing-masing provinsi di Indonesia.
Potongan-potongan tanah dan air ini berasal dari situs bersejarah atau budaya yang memiliki makna signifikan bagi masyarakat setempat.
Kalimantan Tengah, sebagai contoh, membawa tanah dari bukit tempat Tjilik Riwut, seorang pahlawan nasional dan tokoh Dayak terkemuka, pernah bermeditasi.
Sementara Kalimantan Timur menyertakan air dan tanah dari Kutai Lama, tempat sejarah kerajaan Kutai Kartanegara ditemukan.
Baca Juga: 5 Destinasi Wisata di Karanganyar Terkenal, Cepetan Nikmati Pesona Keindahannya
Wilayah Maluku Utara menyatukan tanah dan air dari empat kesultanan utama di Maluku, yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan, yang dikenal sebagai Maluku Kie Raha.
Provinsi Nusa Tenggara Timur mendatangkan tanah dari tujuh kabupaten di wilayahnya, sementara Bengkulu membawa tanah dari lokasi pengasingan Soekarno.