NAWACITAPOST.COM - Sahira Butik Hotel Paledang dan Sahira Butik Hotel Pakuan di Kota Bogor akan menghentikan operasionalnya mulai 29 Maret 2025. Penutupan ini dilakukan tanpa batas waktu yang ditentukan, sebagai dampak dari penurunan bisnis di sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) serta kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Corporate PR & Marketing Manager Sahira Hotels Group, Citra Wulandary Yunisha, menjelaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak signifikan terhadap bisnis hotel di segmen MICE. Penurunan okupansi dan pendapatan yang terjadi sejak kebijakan tersebut diterapkan membuat operasional hotel semakin sulit dipertahankan.
"Sejak adanya efisiensi anggaran pemerintah, bisnis hotel di segmen MICE menurun drastis, terutama dari sisi okupansi dan pendapatan. Penutupan ini menjadi langkah terbaik untuk menekan kerugian perusahaan," ujarnya kepada Radar Bogor, Rabu (26/3/2025).
Tren penurunan mulai terasa sejak Oktober 2024, dengan tingkat okupansi rata-rata di bawah 30% pada kuartal pertama 2025. Hal ini berdampak langsung pada penurunan revenue hotel secara signifikan.
Upaya untuk mempertahankan bisnis telah dilakukan, termasuk perubahan strategi pemasaran dari dominasi klien pemerintahan ke segmen korporasi dan acara sosial, penguatan promosi digital, efisiensi biaya, serta pengurangan jadwal kerja karyawan. Namun, berbagai langkah tersebut belum mampu memperbaiki situasi.
Akibatnya, Sahira Butik Hotel Paledang dan Sahira Butik Hotel Pakuan harus menutup operasionalnya. Penutupan ini tidak hanya berdampak pada hotel, tetapi juga pada karyawan serta UMKM dan pemasok yang bekerja sama dengan mereka.
"Efeknya seperti domino. Saat mulai ada guncangan di 2024 kami pikir karena 2024 tahun politik jadi mencoba bertahan. Harapannya melewati 2024 kondisi akan lebih baik tapi ternyata tidak," jelas Citra.
Dari total 38 karyawan yang bekerja di kedua hotel tersebut, sebagian besar dialihkan ke The Sahira Hotel di Jalan Ahmad Yani. Sementara itu, beberapa bagian seperti housekeeping dan keamanan tetap bertugas di unit masing-masing untuk perawatan dan pengamanan fasilitas.
Baca Juga: Berantas Rentenir, Kopdes Merah Putih Jadi Solusi Ekonomi Desa
Untuk menghadapi situasi ini, Sahira Hotels Group telah berkomunikasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) agar kondisi yang mereka alami dapat tersampaikan kepada pemerintah. Mereka berharap adanya kebijakan yang dapat membantu industri perhotelan, seperti keringanan pajak, bantuan finansial, penyederhanaan regulasi pariwisata, serta penyesuaian kembali kebijakan efisiensi anggaran.
Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, membenarkan bahwa penutupan dua hotel tersebut merupakan dampak dari kebijakan efisiensi pemerintah. Menurutnya, industri perhotelan di Bogor saat ini tengah menghadapi tekanan berat akibat penurunan okupansi yang signifikan.
"Parah sih, semalam saja tingkat okupansi hotel di Kota Bogor hanya 16%," ungkapnya.