Tinggal di komunitas Jesuit di Kulonprogo, DI Yogyakarta, mengharuskannya belajar bahasa Jawa sebelum bahasa Indonesia. Dalam tiga belas bulan, Romo Magnis dapat menguasai bahasa Jawa. Pilihan untuk menggunakan nama Jawa (Suseno) sebagai nama keluarga menunjukkan kecintaannya pada budaya Indonesia. Ia menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) pada tahun 1977.
Romo Magnis telah memberikan kontribusi besar dalam dialog antar keyakinan. Ketika ekstremisme atas nama agama muncul, ia semakin vokal dalam menyuarakan pentingnya dialog yang bijaksana. Baginya, Indonesia adalah milik bersama, bukan milik mayoritas. Persoalan intoleransi yang memicu perpecahan bangsa menjadi keprihatinannya.
Dekat dengan kalangan pemikir Islam seperti almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Romo Magnis aktif dalam dialog antar umat beragama. Ia menganggap Gus Dur sebagai salah satu manusia yang paling penting dalam hidupnya.
Pada tahun 2015, Romo Magnis dianugerahi Bintang Mahaputera dari Presiden RI. Belakangan, ia juga mendapatkan penghargaan "Bhinneka Tunggal Ika Award 2017" dari LKBN Antara dan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) atas kontribusinya dalam dialog antar keyakinan.
Baca Juga: Safari Jalur Tol Jawa Barat, Menko PMK Cek Rest Area KM 57 dan Tol Cisumdawu
Meski telah meraih berbagai penghargaan, Romo Magnis tetap rendah hati. Ia menolak hadiah Bakrie Award 2007 sebagai bentuk solidaritas kepada korban lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Romo Franz Magnis Suseno SJ adalah sosok yang menonjolkan nilai-nilai keberagaman dan menjaga persatuan di Indonesia. Meskipun berusia 81 tahun, ia masih aktif menulis dan menjadi pembicara. Dedikasinya terhadap kebhinnekaan dan toleransi antar keyakinan menjadikannya misionaris sejati pewaris nilai-nilai luhur bangsa.
Kenangan Dua Orang Sahabat
Romo Magnis Suseno, mengenang keakrabannya dengan Ahmad Syafii Maarif. Dalam keterangannya, Romo Magnis menyebut Buya Syafii sebagai sahabat sejati.
Romo Magnis mengungkapkan bahwa ia dan Buya Syafii sering bertemu karena merasa akrab dengan beliau. Buya Syafii selalu penuh perhatian, membuat Romo Magnis merasa dimengerti dan disayangi.
Mereka sering berdiskusi, dan Romo Magnis menilai Buya Syafii selalu memiliki keterbukaan, sikap positif, namun juga kritis. Keislaman Buya Syafii, serta kepeduliannya terhadap keadaan di Indonesia, juga menjadi sorotan dalam dialog mereka.
Romo Magnis merasa bersyukur bisa bertemu dan mengenal Buya Syafii dalam perjalanan hidupnya. Ia berterima kasih kepada Tuhan atas kehadiran Buya Syafii dalam hidupnya.
Dalam berbagai kesempatan, Romo Magnis dan Buya Syafii terlihat bersama. Keduanya seringkali memiliki pemikiran dan sikap yang sama dalam menanggapi isu-isu atau permasalahan bangsa. Salah satu contohnya adalah pandangan mereka terkait konflik di Papua, di mana keduanya menawarkan proses dialog sebagai solusi.
Pada tahun 2015, keduanya memberikan pembekalan untuk Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), serta menerima bersama Habibie Award pada tahun 2010. Hubungan hangat dan kebersamaan antara Romo Franz Magnis Suseno dan Buya Syafii Maarif menjadi cerminan dari semangat persatuan dan kebhinnekaan yang menjadi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Artikel Terkait
Kantor Imigrasi Jakbar Adakan Pelayanan Paspor untuk Calon Jemaah Haji di Kementerian Agama
Daftar Lengkap 37 Lembaga Pengelola Zakat Berizin Kementerian Agama
Pj Gubernur Al Muktabar Hadiri Silaturahmi Pangdam III/Siliwangi Bersama Forkopimda dan Tokoh Agama
Lapas Kelas IIB Siborongborong Kanwil Kemenkumham Sumut dan Kementerian Agama Tapanuli Utara Tandatangani Perjanjian Kerjasama
Rutan Balikpapan Gelar Acara Buka Bersama dan Tausiah Agama, Bersama Petugas dan Anggota Dharma Wanita Persatuan