Rabu, 17 Juni 2026

Peran Penting Literasi Keagamaan lintas Budaya dalam Membentuk Masa Depan Komunitas ASEAN Pasca 2025

Photo Author
Ade Nawacita, Nawacita Post
- Kamis, 25 Januari 2024 | 22:41 WIB
Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang diadakan Kementerian Hukum dan HAM bersama Institut Leimena pada 13-14 November 2023. (Foto: ist)
Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang diadakan Kementerian Hukum dan HAM bersama Institut Leimena pada 13-14 November 2023. (Foto: ist)

Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu'ti, mengatakan kawasan ASEAN selama ini disebut sebagai kawasan dengan masyarakat serumpun, namun sesungguhnya memiliki berbagai latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Itu sebabnya, perlu dibangun kedekatan lewat berbagai jalur termasuk literasi keagaman lintas budaya.

Baca Juga: Optimalkan Kualitas Pelayanan, Lapas Kelas IIB Tebing Tinggi Kanwil Kemenkumham Sumut Ikuti Sosialisasi PEKPPP

“Pengalaman Indonesia bagaimana Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya bisa memberikan pengembangan kompetensi guru perlu direplikasi negara-negara ASEAN,” katanya.

Menurut Mu’ti, literasi keagamaan lintas budaya di Indonesia berkontribusi untuk membangun toleransi otentik karena tetap memelihara pluralitas agama dan budaya masing-masing negara. Inisiatif tersebut juga bisa menjadi gerakan baru di ASEAN, sehingga kawasan ini tidak hanya lebih banyak bicara tentang ekonomi dan politik, tetapi juga masalah perdamaian dan kerukunan.

Wakil Indonesia untuk Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR), Yuyun Wahyuningrum, mengatakan literasi keagamaan lintas budaya bisa memberikan perspektif keberagaman yang baru, yaitu bukan hanya terkait ibadah semata melainkan memahami peran agama dalam berbagai isu seperti perubahan iklim. “Pilar kebudayaan ASEAN bisa menjadi rumah dari insiatif literasi keagamaan lintas budaya,” kata Yuyun.

Baca Juga: Lapas Kelas IIB Tebing Tinggi Kanwil Kemenkumham Sumut Ikuti Kegiatan Entry Meeting Pemeriksaan BPK RI TA 2023

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menambahkan Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang dikembangkan Institut Leimena dan berbagai lembaga mitra di Indonesia telah diikuti lebih dari 6.000 guru baik dari madrasah maupun sekolah, penyuluh agama, dai dan daiyah.

“Program ini kemudian ternyata mulai menarik perhatian dari luar negeri, karena banyak tantangan serupa dalam masyarakat majemuk di negara-negara. Utamanya adalah bagaimana mengatasi masalah prejudice, stereotip negatif terhadap yang berbeda, apalagi ketika ditambah masuknya ajaran-ajaran agama yang bersifat eksklusif, anti perbedaan, bahkan ekstrem,” ujar Matius.

Halaman:

Editor: Ade Nawacita

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini