Infrastruktur penting seperti pelabuhan dan terminal bahan bakar bahkan telah jatuh ke tangan geng. Masuknya senjata dan narkoba dari negara tetangga juga menambah beban keamanan nasional, membuat pemerintah kewalahan dalam menangani gelombang kekerasan yang terus meningkat.
5. Afrika Selatan
Afrika Selatan dikenal dengan tingkat kekerasan yang sangat tinggi, termasuk kasus rudapaksa, pembunuhan, dan penyerangan. Akar masalah ini berkaitan erat dengan ketimpangan sosial, kemiskinan, dan pengangguran.
Baca Juga: Metland Bagikan Dividen Rp86,12 Miliar, Cek Jadwal Pembayarannya!
Selain itu, budaya kekerasan yang sudah mengakar memperburuk situasi. Penelitian oleh South African Medical Research Council menemukan bahwa lebih dari 1 dari empat pria yang disurvei mengaku pernah melakukan rudapaksa, menunjukkan bahwa kekerasan seksual telah menjadi isu serius di negara ini.
6. Honduras
Honduras mencatat indeks kejahatan sebesar 74,3. Negara ini menjadi jalur utama penyelundupan narkoba menuju Amerika Serikat dan mengalami krisis keamanan terutama akibat dominasi geng seperti Barrio 18 dan Mara Salvatrucha.
Puncak kekerasan tercatat pada tahun 2012, dengan 20 kasus pembunuhan per hari. Penegakan hukum yang lemah membuat geng-geng ini semakin sulit dikendalikan. Pemerintah Amerika Serikat pun menetapkan peringatan perjalanan Level 3, menyarankan warga untuk mempertimbangkan kembali kunjungan ke negara tersebut.
7. Trinidad dan Tobago
Dengan indeks kejahatan 70,8, negara ini menghadapi tantangan dari berbagai sisi. Geng kriminal, permintaan tinggi terhadap senjata ilegal, dan lemahnya sistem hukum berkontribusi terhadap peningkatan kejahatan.
Baca Juga: Resmi Jabat Kepala Rutan Larantuka, Loviga Ferdinanta Sembiring Siap Bawa Semangat Baru
Pemerintah juga menghadapi hambatan dari birokrasi dalam melakukan reformasi keamanan. Wisatawan kerap menjadi sasaran pencopetan, penipuan, dan kekerasan fisik, yang membuat negara ini mendapat status perjalanan Level 3 dari pemerintah AS.
8. Suriah
Suriah tidak hanya menghadapi dampak dari konflik berkepanjangan, tetapi juga menjadi pusat produksi Captagon, sejenis amfetamin yang diperdagangkan untuk mendanai kelompok-kelompok bersenjata. Daerah-daerah yang dikuasai milisi mengalami pemerasan dan pemalakan secara luas.
Kejahatan seperti perdagangan manusia dan penyelundupan senjata menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi ekonomi yang runtuh akibat perang turut mendorong penyelundupan barang palsu dan tembakau. Kondisi tersebut menempatkan Suriah dengan tingkat kejahatan 69,1.
Baca Juga: Cak YeBe: Saatnya Hunian Murah dan Terintegrasi Jadi Prioritas Surabaya
9. Guyana
Guyana memiliki tingkat pembunuhan empat kali lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat, dengan indeks kejahatan 68,8. Kejahatan bersenjata, kekerasan dalam rumah tangga, serta pencurian merupakan kejahatan yang umum terjadi, terutama di ibu kota Georgetown.
Meskipun ada regulasi ketat terkait kepemilikan senjata, penggunaannya oleh pelaku kriminal tetap tidak terkendali. Wisatawan juga rentan terhadap perampokan dan penyerangan.
10. Peru
Peru dikenal sebagai salah satu produsen kokain terbesar di dunia. Aktivitas kejahatan terorganisasi di negara ini sangat dipengaruhi oleh jaringan perdagangan narkoba, terutama di wilayah penghasil koka seperti VRAEM.
Artikel Terkait
Upaya Deteksi Dini Pastikan Bebas Halinar, Kalapas Kotapinang Pimpin Penggeledahan Kamar Hunian
Achmad Hidayat Ajak Kibarkan Bendera PDI Perjuangan sebagai Api Ideologi di Bulan Bung Karno
Disemprot Bupati Aep, Satker PU Janji Perbaikan Jalan Rusak Jatisari Mulai Dikerjakan Sabtu Ini
Forum Purnawirawan TNI Desak DPR dan MPR Proses Pemakzulan Gibran
Raya Darmo 30 Hilang! Sejarah Surabaya Dihapus Seperti Rumah Bung Tomo di Mawar 10