NAWACITAPOST.COM - Perjalanan hidup Iwan Sunito mencerminkan kombinasi unik antara ketekunan, ambisi, dan keyakinan pada visi jangka panjang. Lahir di Surabaya pada 29 Juli 1966, Iwan tak serta-merta tumbuh dalam bayang-bayang rencana besar.
Justru semuanya bermula dari keputusan sang ayah, Handy Sunito, yang pada 1984 memintanya untuk menempuh pendidikan di Sydney, Australia. Sebuah permintaan yang awalnya terdengar seperti candaan, namun ternyata menjadi awal dari langkah besar yang menentukan arah hidupnya.
Kepergian ke Australia bukan hanya tentang studi, tapi juga tentang membangun pijakan baru. Handy Sunito kala itu menekankan pentingnya mencari peluang di tempat yang lebih besar.
Baginya, Sydney memiliki potensi jauh lebih besar dibanding kota asal mereka. Nasihatnya yang masih diingat oleh Iwan adalah bahwa seseorang harus berpikir besar, tapi memulai dari hal-hal kecil. Sebuah filosofi yang kemudian menjadi pondasi perjalanan bisnis Iwan di tanah rantau.
Mengawali studinya di University of New South Wales (UNSW), Iwan menyelesaikan pendidikan Sarjana Arsitektur pada 1992, dilanjutkan dengan gelar Master di bidang Manajemen Konstruksi pada 1993. Masa-masa kuliah menjadi fase penting dalam membentuk pemahaman Iwan terhadap dunia arsitektur dan investasi properti.
Di kampus itu pula, ia menerima penghargaan Eric Daniels Prize untuk Desain Hunian, yang menjadi pengakuan atas kemampuannya sejak dini. Namun, proses adaptasi sebagai pendatang tidak selalu berjalan mulus.
Masalah bahasa dan budaya kerap menjadi tantangan tersendiri. Beberapa pengalaman lucu mewarnai masa awalnya, seperti saat ia salah mengartikan sapaan khas Australia atau ketika merespons pertanyaan dengan jawaban yang tak sesuai konteks. Tetapi, justru dari situ ia belajar pentingnya ketahanan dan kemampuan beradaptasi sebagai bekal untuk bertahan dan tumbuh.
Langkah pertamanya di dunia properti dimulai pada 1996 melalui proyek kecil di Bondi Junction yang menghasilkan 54 unit hunian. Proyek ini membawa keuntungan besar sekitar Rp50 miliar dan menjadi landasan yang memperkuat kepercayaan dirinya dalam membangun bisnis lebih besar lagi.
Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Diri, Pemkab Nias Gelar Pembinaan Mental dan Kerohanian bagi ASN
Keberhasilan awal ini juga membentuk prinsip bisnisnya yang kemudian dikenal sebagai “Buy Well, Add Value, Sell Well”. Pendekatan strategisnya mulai terbukti ketika ia mengembangkan proyek di Newington pada 2004.
Investasi awal sebesar Rp20 miliar berbuah keuntungan mencapai Rp400 miliar. Keberhasilan ini mengukuhkan posisinya sebagai pemain besar di sektor properti Australia. Tahun 2011, ia meluncurkan Top Ryde City Living, yang menjadi salah satu proyek terbesar di New South Wales dan simbol dari reputasinya sebagai pengembang visioner.
Selama dua dekade, nama Iwan Sunito dan Crown Group menjadi sinonim dengan proyek-proyek premium seperti 'V by Crown Group' dan 'Waterfall by Crown Group', serta hotel dengan konsep apartemen mewah SKYE Suites yang bahkan meraih predikat Apartment/Suites Hotel of the Year pada 2023. Di tengah pencapaian tersebut, ia terus mengembangkan bisnis, termasuk dengan membentuk perusahaan baru bernama One Global Capital.
Artikel Terkait
Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Haris Damanik Resmi Lanjutkan Kepemimpinan Kepala Lapas Kotapinang
Apresiasi Kinerja RS Soewandhie, Bang Jo Dorong Inovasi dan Medical Tourism
Ketua PWI Jabar, Sedih Soal Derita Pers PHK Wartawan Masal
Lapas Rantauprapat Ikuti Sosialisasi Teknis Masa Orientasi dan PKTBT CPNS 2025 Secara Virtual
Polsek Gedangan Dukung Program Asta Cita Presiden, Tinjau Lahan P2L di Desa Bangah