NAWACITAPOST.COM – Keluarga besar Maraden Panggabean dikenal luas sebagai salah satu keluarga Batak yang memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan sosial dan keagamaan di Sumatera Utara, khususnya di kampung halaman mereka, Pansur Napitu, Tarutung. Sejak wafatnya Jenderal TNI (Purn.) Maraden Panggabean pada tahun 2000, nilai-nilai pelayanan, kepedulian, dan kasih terhadap sesama terus diwariskan dan diwujudkan dalam berbagai aksi nyata oleh para keturunannya.
Salah satu tonggak penting dari warisan tersebut adalah pembangunan Gereja HKBP Pansurnapitu pada tahun 2008 oleh Baringin Panggabean bersama ibundanya, Meida Panggabean. Gereja ini dibangun sebagai bentuk kontribusi spiritual keluarga besar Panggabean kepada masyarakat kampung halaman mereka.
“Pada tahun 2008, saya bersama ibu saya, Ny. Meida Panggabean, membangun Gereja HKBP Pansurnapitu di Tarutung, Tapanuli Utara. Ini merupakan bentuk kontribusi keluarga kami untuk menyediakan tempat ibadah yang layak bagi masyarakat setempat, sebagai wujud tanggung jawab pelayanan kami kepada Tuhan,” tulis Baringin Panggabean di akun Instagram miliknya.
Kehadiran gereja tersebut menjadi pusat pembinaan rohani dan ruang ibadah yang layak bagi jemaat di wilayah itu. Peresmian gereja turut dihadiri oleh Ephorus HKBP serta para pendeta dari wilayah Tarutung, menunjukkan besarnya perhatian gereja terhadap kontribusi keluarga Panggabean.
Gereja HKBP Pansurnapitu tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga karya arsitektural yang menggabungkan nilai-nilai lokal dengan sentuhan modern. Dirancang oleh Ir. Patar Pasaribu, bangunan gereja ini memadukan ornamen khas Batak dengan struktur yang lapang dan terang. Cahaya alami yang masuk melalui kaca patri memberikan suasana teduh dan khusyuk di dalamnya.
Di balik kemegahan gereja tersebut, tersimpan kisah tentang kemurahan hati yang tulus. Pembangunan gereja ini didanai sepenuhnya oleh keluarga Panggabean. Namun, bagi mereka, warisan terpenting bukanlah bangunan fisik, melainkan semangat pelayanan yang lahir dari iman dan cinta kepada Tuhan.
Acara peresmian juga menjadi momen kebersamaan yang hangat bagi keluarga besar Panggabean. Anggota keluarga datang dari berbagai daerah untuk merayakan pencapaian tersebut bersama warga setempat. Dalam suasana penuh syukur itu, tergambar semangat gotong royong dan rasa syukur mendalam atas kasih Tuhan yang terus menyertai mereka.
Gereja HKBP Pansurnapitu bukan sekadar simbol keagamaan, tetapi bukti nyata bahwa kasih Tuhan terus bekerja melalui tangan-tangan manusia. Kehadirannya menjadi warisan iman bagi generasi berikutnya dan pengingat akan tanggung jawab untuk melayani dan memberi.
Baca Juga: Empat Tahun BPF: Cerita Dewi Motik Tentang Perubahan, Budaya, dan Keberagaman
Dalam diamnya dinding gereja yang kokoh, tersimpan kisah tentang sebuah keluarga yang tak pernah melupakan asal-usul dan panggilan hidupnya. Pembangunan gereja ini merupakan perwujudan spiritualitas Maraden Panggabean yang kini diteruskan oleh generasi penerusnya, Baringin Panggabean.
Artikel Terkait
Upaya Tangani Sampah Plastik: Meccaya Kolaborasi dengan Plasticpay dan InJourney Hadirkan Mesin RPM di Kawasan Borobudur
Gaungkan Toleransi dan Kepedulian terhadap Alam, Irene Umar Puji Gelaran BPF 2025
Gagal Edar! Polres dan Bea Cukai Soetta Gagalkan Penyelundupan Ganja Bentuk Permen dari Thailand
Merasa ditipu Rp100jt, Suyitno Resmi Polisikan Arief Wirawan
Lagi dan Lagi.! Lapas Kelas IIB Siborongborong Kembali Panen 300 Kg Buncis