NAWACIAPOST.COM - Rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mengaitkan pemberian bantuan sosial (bansos) dengan kewajiban mengikuti program vasektomi atau kontrasepsi permanen pada pria mendapatkan berbagai reaksi dari berbagai kalangan. Usulan ini bertujuan untuk menekan laju kelahiran, terutama di kalangan masyarakat yang kurang mampu, serta sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan jangka panjang.
Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa ia sering kali menerima permintaan bantuan untuk membiayai proses kelahiran yang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Ia menilai banyak orang tua yang belum siap secara finansial dan tanggung jawab dalam menghadapi kehamilan, kelahiran, hingga pendidikan anak.
"Kalau orang tidak punya kemampuan untuk membiayai kelahiran, membiayai kehamilan, membiayai pendidikan, ya jangan dulu ingin menjadi orang tua dong," ujar Dedi.
Ia juga menambahkan bahwa program ini akan diterapkan pada berbagai jenis bantuan sosial seperti subsidi biaya rumah sakit, kelahiran, listrik, pangan non-tunai, beasiswa, dan lainnya. Fokus utamanya adalah pentingnya partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB), yang menurutnya seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan.
"Saya harapkan suaminya atau ayahnya yang ber-KB, sebagai bentuk tanda tanggung jawab terhadap diri dan keluarganya. Jangan terus-terusan dibebankan pada perempuan gitu loh," ujarnya.
Sebagai bagian dari insentif, masyarakat yang bersedia menjalani vasektomi akan diberikan bantuan tunai sebesar Rp 500 ribu. Vasektomi, yang merupakan prosedur KB permanen pada pria, dilakukan dengan cara memutus saluran sperma dari testis. Dengan demikian, air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi tidak mengandung sperma, yang mengurangi kemungkinan terjadinya pembuahan.
Apa itu vasektomi?
Vasektomi adalah prosedur steril permanen yang bertujuan untuk menghalangi saluran sperma sehingga tidak tercampur dengan air mani. Meskipun demikian, pria yang menjalani vasektomi tetap bisa merasakan orgasme dan ejakulasi, namun tanpa mengandung sperma.
Beberapa keunggulan vasektomi adalah tingkat keberhasilannya yang mencapai 99% dalam mencegah kehamilan, minimnya risiko dan efek samping, serta tidak memengaruhi gairah atau kualitas hubungan seksual. Prosedur ini tetap memungkinkan pria untuk merasakan ereksi dan orgasme, meskipun tidak dapat memiliki anak lagi.
Sebelum menjalani vasektomi, pasien harus melalui beberapa tahapan, mulai dari pemeriksaan medis untuk memastikan tidak ada kondisi kesehatan yang menghalangi prosedur, seperti luka parut, infeksi, atau kelainan organ reproduksi. Setelah itu, dokter akan memberikan bius lokal di sekitar area yang akan dioperasi dan melakukan prosedur dengan membuat sayatan kecil pada skrotum untuk mengakses saluran sperma.
Terdapat dua metode dalam pelaksanaan vasektomi, yakni vasektomi konvensional dan tanpa sayatan. Metode konvensional membutuhkan sayatan pada kulit skrotum, sedangkan metode tanpa sayatan lebih minimal invasif, dengan hanya membuat lubang kecil di kulit untuk mengakses saluran sperma.
Setelah prosedur, pasien diharuskan untuk beristirahat dan merawat luka dengan hati-hati untuk mencegah infeksi atau komplikasi. Efek samping yang mungkin terjadi pascaprocedur termasuk nyeri ringan, pembengkakan, atau infeksi pada bekas sayatan.
Artikel Terkait
Suasana Baru di DPC PDIP Surabaya: Ada Makan Siang, Temuan Rahang Babi hingga Optimisme Kader
Kalapas Siborongborong Sematkan Kenaikan Pangkat Serta Pelepasan Pegawai Pindah Tugas
Langkah Nyata Tingkatkan Kualitas Layanan Kesehatan, Kalapas Rantauprapat Lakukan Koordinasi Dengan Dinkes Kabupaten Labuhanbatu
Permudah Sertifikasi Tanah, DPRD Minta Pemkot Surabaya pakai 'Lontong Balap'
Sentra Wisata Kuliner Lesu, DPRD Surabaya Desak Dinkopdag Lakukan Perbaikan