Kedua, Jawaban Tergugat I adalah tidak jelas dan tidak terstruktur, sehingga membingungkan Penggugat dalam menanggapi di dalam Repliknya, karena di dalam Jawaban Tergugat I telah mencampur adukkan hal-hal diluar pokok perkara, sehingga Jawaban Tergugat I tidak menjawab Gugatan Penggugat.
Ketiga, Kompetensi Absolut terkait Pengadilan Negeri Surabaya tidak berwenang memeriksa perkata aquo. Bahwa Gugatan Penggugat bukan merupakan gugatan yang menyangkut keputusan suatu badan/institusi seperti KPKNL akan tetapi merupakan Gugatan wanprestasi yang menyangkut Akta Perjanjian Pengelolaan No. 12 tertanggal 27 Juli 2022, yang menyangkut pihak yang ada di dalamnya tidak menjalankan prestasinya dalam hal ini adalah Tergugat I.
Keempat, Gugatan Penggugat Kurang Pihak (PluriumLitisConsortium) adalah tidak benar, karena dalam hal Kustanto Widiatmoko tidak dilibatkan dalam gugatan ini dikarenakan Kustanto Widiatmoko itu bukan mengatasnamakan pribadi, akan tetapi atas nama institusi Kodam V/Brawijaya. Sedangkan untuk Ferry Gunawan, SH., adalah Notaris yang membuat Perjanjian No. 12 tertanggal 27 Juli 2023 bukan pihak yang terlibat didalam isi perjanjian sehingga memang bukan pihak yang perlu dilibatkan dalam gugatan wanprestasi.
Dalam replik, penggugat menolak seluruh uraian dalam eksepsi exceptio non adimpleti contractus, karena yang menjadi obyek gugatan adalah Perjanjian Pengelolaan No. 12 tertanggal 27 Juli2023.
Sedangkan Replik menjawab KPKNL Surabaya sebagai Turut Tergugat I, dan Kodam V/Brawijaya sebagai Turut Tergugat II, ada beberapa poin dalam Eksepsi, antara lain:
Pertama, Penggugat menolak Jawaban Turut Tergugat I maupun Turut Tergugat II, bagian Eksepsi ’Error in Persona’ karena terlalu masuk dalam pokokperkara.
Kedua, Terkait Eksepsi Turut Tergugat II, Gugatan Error in Persona dalam bentuk plurium litis consortium, adalah tidak benar karena selama ini yang Kodam V/Brawijaya terlibat langsung dengan munculnya perkara yang sedang diperkarakan oleh Penggugat, dan yang terkait langsung dengan gugatan Penggugat.