Kamis, 4 Juni 2026

Ketua Komisi C DPRD Surabaya Paparkan Enam Langkah Strategis Tangani Banjir

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Kamis, 26 Desember 2024 | 15:54 WIB
M. Eri Irawan, Ketua Komisi C DPRD Surabaya (Nawi)
M. Eri Irawan, Ketua Komisi C DPRD Surabaya (Nawi)

NAWACITAPOST.COM – Curah hujan deras yang mengguyur Kota Surabaya selama empat jam pada Selasa malam, 24 Desember 2024, mengakibatkan banjir di berbagai wilayah. Ketua Komisi C DPRD Surabaya, M. Eri Irawan, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk memperkuat penanganan banjir secara lebih terintegrasi dan strategis.

Eri Irawan memberikan apresiasi atas kerja keras tim Pemkot Surabaya, perangkat RT/RW, dan warga yang bergotong royong menangani dampak banjir. "Kerja keras dari Selasa malam hingga Rabu pagi, termasuk Wali Kota dan Wakil Wali Kota, patut diapresiasi. Meski demikian, ada banyak hal yang masih perlu ditingkatkan," kata Eri pada Rabu, 25 Desember 2024.

Eri juga menekankan bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrem harus menjadi perhatian bersama. "Kita harus menyadari potensi cuaca ekstrem yang terus meningkat. Ini menuntut pendekatan penanganan banjir yang lebih komprehensif," ujarnya.

Eri menjelaskan bahwa banjir kali ini bukan hanya akibat sistem saluran yang kurang optimal, tetapi juga akumulasi berbagai faktor seperti intensitas hujan tinggi di daerah hulu, kenaikan debit air di sungai besar akibat kiriman dari daerah Jombang dan Mojokerto, serta kenaikan permukaan air laut yang menyebabkan saluran air “antre” menuju sungai besar atau laut.

Enam Strategi Penanganan Banjir

Normalisasi menjadi prioritas utama untuk meningkatkan kapasitas saluran. “Pemkot sudah melakukan normalisasi di beberapa titik, tetapi belum merata. Sumber daya perlu ditingkatkan untuk mempercepat proses ini,” kata Eri.

Waduk, bozem, dan tampungan air lainnya harus terus dibangun. "Beberapa lahan PSU yang sudah diserahkan ke Pemkot bisa dimanfaatkan sebagai bozem. Selain itu, resapan air juga harus diperbanyak untuk mendukung pengelolaan air hujan dan meningkatkan cadangan air tanah," tambahnya.

Sebagai daerah hilir, Surabaya membutuhkan pengelolaan air hujan yang baik di daerah hulu. “Kolaborasi lintas daerah dengan koordinasi Pemprov Jawa Timur, Balai Besar Wilayah Sungai Brantas, dan Perum Jasa Tirta I sangat penting untuk mengurangi dampak banjir di Surabaya,” tegas Eri.

Masalah sampah yang menghambat saluran air perlu ditangani lebih serius. Eri menyebut bahwa setiap hari ditemukan 1-2 ton sampah di rumah pompa. “Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah sangat penting. Ini harus menjadi gerakan bersama antara Pemkot dan warga,” katanya.

Eri mengingatkan pentingnya mengurangi pembangunan di daerah resapan air. "Pemkot harus memanfaatkan aset idle sebagai kawasan hijau. Ini penting untuk mendukung keberlanjutan lingkungan," ujarnya.

Teknologi modern harus diterapkan untuk pengendalian banjir. “Pintu air dan rumah pompa harus dioptimalkan dengan sistem berbasis teknologi. Selain itu, informasi curah hujan dan potensi banjir perlu disampaikan secara real-time kepada warga,” jelas Eri.

Eri menutup dengan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam mendukung upaya penanganan banjir. "Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait adalah kunci untuk mengatasi masalah banjir ini. Kesadaran bersama harus terus ditingkatkan," pungkasnya. ***

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini