NAWACITApost.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat terdapat sebanyak 16 kasus perundungan di sekolah dalam kurun Januari-Juli tahun 2023. Adapun jumlah korban perundungan di sekolah selama periode tersebut sebanyak 43 orang yang terdiri dari 41 siswa (95,4%) dan dua guru (4,6%).
Kasus perundungan mayoritas terjadi di SD (25%) dan SMP (25%), lalu di SMA (18,75%) dan SMK ( 18,75%), MTs (6,25%) dan Pondok Pesantren (6,25%). Adapun pelaku perundungan didominasi oleh siswa yakni sebanyak 87 orang (92,5%), sisanya oleh pendidik sebanyak 5 pendidik (5,3%), 1 orangtua siswa(1,1%), dan 1 Kepala Madrasah (1,1%)
Lalu apa yang disebut dengan bullying? Artikel ini akan mengulas pengertian hingga jenis-jenis bullying. Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.
Pengertian Bullying
Bullying berasal dari bahasa Inggris yaitu bull yang berarti banteng. Secara etimologi bullying berarti penggertak, orang yang mengganggu yang lemah.
Dalam bahasa Indonesia, bullying disebut menyakat yang artinya mengusik dengan tujuan supaya menjadi takut, menangis, dan sebagainya, sera merisak secara verbal.
Melansir situs Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebutkan, bullying dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “penindasan/risak”. Bullying merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus.
Cara Mengatasi Bullying
Dampak bullying dapat sangat merusak, baik secara fisik maupun psikologis. Korban bullying seringkali mengalami tekanan emosional yang berat, kecemasan, depresi, dan bahkan berpotensi untuk mengalami gangguan mental yang lebih serius.
Karena itu diperlukan cara yang tepat untuk mengatasi bullying. Berikut beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk mencegah aksi bullying terulang kembali.
1. Sekolah perlu menciptakan kultur yang aman, nyaman dan sehat. Sehingga, siswa bisa berinteraksi dengan baik dengan teman-temannya.
2. Guru dan orang tua perlu untuk mengajarkan siswa/anak untuk menyelesaikan masalah dengan pendekatan musyawarah bersama, bukan dengan kekerasan dan main hakim sendiri
3. Orang tua mendampingi anak dalam menyerap informasi, terutama dari televisi, internet dan media lainnya
4. Orang tua memberikan lingkungan yang penuh dengan kasih sayang sejak dini. Caranya dengan memperlihatkan cara berinteraksi antar anggota keluarga
5. Sekolah membuat desain program pencegahan yang berisi pesan kepada murid bahwa perilaku bully tak diterima di sekolah. Sekolah juga bisa membuat kebijakan "Anti bullying".
Jenis Bullying
Secara umum praktik dari bullying dikelompokkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut.
1. Bullying Fisik
Perilaku ini bisa dilihat karena terjadi sentuhan fisik antara pelaku bullying dan juga korbannya. Contoh dari bullying fisik adalah memukul, menarik baju, menyenggol dengan bahu, menjewer, menjambak.
2. Bullying Verbal
Bullying verbal dapat terdengar oleh telinga kita. Contoh dari bullying verbal adalah menghina, memaki, meledek, mencela, meneriaki, menyoraki, mempermalukan di depan umum, menyebar gosip.
3. Bullying Mental/Psikologis
Hal ini tidak tertangkap oleh mata dan telinga orang-orang di sekitarnya. Contoh dari bullying mental adalah memandang sinis, mengucilkan, memandang penuh ancaman.
Demikian informasi mengenai bullying. Semoga kita selalu terhindar dari perilaku ini.
Penulis: Asri Geto