Jakarta, NAWACITAPOST.COM - Berbagai daerah di Indonesia punya caranya masing-masing dalam menyambut datangnya malam Lailatul Qodar. Salah satunya adalah Kraton Yogyakarta dengan tradisi malam selikuran. Malem Selikur diadakan untuk menyambut malam Lailatul Qadar. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan Kesultanan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam untuk senantiasa menyebarkan ajaran Islam di tengah masyarakat Jawa.
Melansir kratonjogja.id tradisi malam selikuran diperkenalkan oleh Wali Songo sebagai metode memperkenalkan ajaran agama Islam. Tradisi malam selikuran ini menggabungkan tradisi Jawa dan ajaran Islam. Ada yang mengartikan selikur sebagai sing linuwih ing tafakur. Tafakur berarti usaha untuk mendekatkan diri pada Allah, sehingga sing linuwih ing tafakur dapat diartikan sebagai ajakan untuk lebih giat mendekatkan diri pada Allah. Karena itu tradisi Malem Selikur diharapkan menjadi sarana pengingat untuk memperbanyak sedekah, merenung dan instropeksi diri, juga menggiatkan ibadah-ibadah lain dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Seiring berkembangnya waktu, rangkaian acara pada Malem Selikuran terus bertambah dari tahun ke tahun. Urutan rangkaian acara yang dalam tradisi itu yaitu pembacaan Al-Qur’an, tausiyah, zikir, istigfar, do’a, dan dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Acara itu dilaksanakan setiap tanggal 20 Bulan Ramadan dan diselenggarakan mulai pukul 17.00 di Bangsal Sri Manganti Kraton Jogja.
Acara Malem Selikuran dihadiri oleh para pengurus Kraton Jogja dan juga para abdi dalem yang bertanggung jawab dengan acara-acara keagamaan yang diadakan Kraton yang dimulai sejauk pukul 17.00. Pada pelaksanaan acara itu juga disajikan berbagai hidangan antara lain kotak anyaman bambu/besek yang di dalamnya terdapat nasi dan lauk pauknya. Selain itu juga dihidangkan buah-buahan dan susunan kecil nasi bungkus. Makanan itu nantinya akan dibagikan untuk seluruh peserta yang hadir sebagai bentuk sedekah dari Sultan.
Dalam bahasa Jawa, Malem Selikur berasal dari kata malem yang berarti malam dan selikur yang berarti dua puluh satu. Dua puluh satu yang dimaksud mengacu pada tanggal 21. Tanggal 21 menjadi hari pertama dari sepertiga akhir bulan Puasa, awal penantian bagi malam Lailatul Qadar yang akan tiba pada salah satu malam pada tanggal ganjil periode tersebut.
Tradisi malam selikuran diharapkan menjadi sarana pengingat untuk memperbanyak sedekah, introspeksi diri, dan juga meningkatkan ibadah-ibadah lain dalam sepuluh hari pada bulan Ramadan. Penamaan malam selikuran berasal dari bahasa Jawa yaitu malam yang artinya malam, dan selikur yang artinya dua puluh satu. Angka tersebut mengacu pada tanggal 21 pada bulan Ramadan yang menjadi sepuluh hari terakhir di bulan tersebut. Di saat itulah masa awal penantian malam Lailatul Qadar tiba.