Senin, 5 Oktober 2026

Purna Divestasi Aset Tambang Australia, Boy Thohir Pulangkan Rp12,6 Triliun Modal Bisnis ke Indonesia

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Senin, 5 Oktober 2026 | 17:02 WIB
Pengusaha nasional Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengambil keputusan besar dengan menjual bisnis di Australia dan fokus bisnis di Indonesia. (Foto: TBS)
Pengusaha nasional Garibaldi Thohir atau Boy Thohir mengambil keputusan besar dengan menjual bisnis di Australia dan fokus bisnis di Indonesia. (Foto: TBS)

 
NAWACITAPOST.COM — Pengusaha nasional Garibaldi Thohir alias Boy Thohir mengambil langkah strategis nan substansial dalam rekam jejak bisnisnya dengan menarik keluar modal investasi dari luar negeri untuk ditanamkan kembali di Indonesia.

Melalui anak perusahaan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), grup usaha yang dipimpinnya resmi melepaskan seluruh kepemilikan saham di Kestrel Coal Group, Australia, dengan nilai transaksi fantastis mencapai kurang lebih US$700 juta setelah pajak, atau setara Rp12,6 triliun, pada Kamis, 1 Oktober 2025.
 
Langkah repatriasi modal berskala besar ini tidak sekadar memperkuat posisi kas internal perusahaan, tetapi juga diproyeksikan menjadi bahan bakar utama bagi ekspansi bisnis berkelanjutan di dalam negeri.
 

Manajemen Adaro mengonfirmasi bahwa suntikan dana hasil divestasi tersebut akan dialokasikan secara terukur untuk membiayai pengembangan portofolio bisnis Grup Adaro di Indonesia, pembayaran dividen kepada pemegang saham, serta pelunasan sebagian kewajiban pinjaman grup guna menjaga rasio keuangan tetap sehat.

Refleksi Titik Nadir ICU dan Titah Sang Ayah

Di balik kalkulasi korporasi bernilai triliunan rupiah tersebut, terkuak narasi emosional dan pemicu personal yang mendalam.
 
Keputusan strategis memindahkan arus modal dari Australia ke pangkuan Ibu Pertiwi berakar kuat dari pengalaman spiritual dan perjuangan hidup-mati Boy Thohir saat dihantam krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 pada tahun 2020 silam.

Kala itu, sang taipan sempat berada dalam kondisi kritis dan harus menjalani perawatan intensif selama 11 hari di ruang Intensive Care Unit (ICU).
 
Dalam momen titik nadir yang menentukan antara hidup dan mati tersebut, ingatan Boy melayang pada amanat mendalam almarhum ayahnya, Teddy Thohir, untuk selalu menjaga keselamatan serta keberlanjutan keluarga besar.
 
 
Pengalaman traumatik sekaligus transformatif itulah yang pada akhirnya meredefinisi ulang cara pandangnya terhadap hakikat kepemimpinan, komitmen sosial, dan tanggung jawab moral seorang pengusaha.

“Saya merasa mau mati saja dan pesan ayah, ‘Kamu itu punya delapan anak yang harus kamu take care,’” ujar Boy Thohir saat mengenang kembali masa-masa sulit tersebut di kawasan Kuningan CBD, Jakarta, pekan lalu.

Komitmen Kemanusiaan dan Resiliensi Bisnis

Keinsafan moral itu langsung diuji ketika badai krisis ekonomi akibat pandemi menghantam sektor industri secara global dan memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di mana-mana.
 
Di tengah tekanan finansial yang berat, Boy mengambil sikap tegas untuk menolak opsi efisiensi melalui PHK.
 
Bagi dirinya, beban krisis ekonomi yang meremukkan tidak boleh ditimpakan secara sepihak kepada para pekerja, terlebih di saat perusahaan sejatinya masih memiliki ketahanan modal untuk menjaga kelangsungan hidup mereka.
 

Dalam situasi dilematis tersebut, ia memprakarsai skema pengorbanan bersama dengan memberlakukan penyesuaian penghasilan di tingkat manajemen hingga staf.
 
Skema kolektif ini terbukti ampuh mempertahankan seluruh angkatan kerja perusahaan tanpa ada satu pun karyawan yang kehilangan mata pencaharian hingga badai pandemi akhirnya mereda.

Pertaruhan berbasis nilai-nilai kemanusiaan itu membuah hasil manis.
 
Ketika pasar komoditas energi global bangkit dan harga batu bara meroket tajam pada tahun 2022, kinerja operasional dan finansial Grup Adaro meluncur deras ke zona positif, bahkan membukukan rekor pertumbuhan bisnis yang luar biasa.

Penguatan Akar Nasionalisme Korporasi

Landasan filosofis serta keberpihakan moral itulah yang kini menjadi fondasi utama penentuan arah kemudi bisnis Grup Adaro ke depan.
 
 
Pengalihan aset secara masif dari tambang Australia menuju pasar domestik membuktikan bahwa orientasi pertumbuhanAdaro sepenuhnya bertumpu pada pembangunan ekonomi nasional.

“DNA kita memang yang di Indonesia. Baik buruknya, ini negara kita. Mau diapain? Ya sudah, apa yang kita bisa perbuat,” tegas Boy memberikan penekanan.

Suntikan dana segar sebesar Rp12,6 triliun yang kini telah masuk ke dalam negeri bukan lagi sekadar angka likuiditas dalam neraca keuangan.
 
Penarikan modal modal asing kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi ini menegaskan komitmen korporasi untuk mengakselerasi roda perekonomian nasional, memperluas penyerapan tenaga kerja lokal, serta memberikan dampak berganda (multiplier effect) yang lebih nyata bagi kemajuan pembangunan di Tanah Air.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini