Sabtu, 3 Oktober 2026

Pengusaha Jalan Tol Dipanggil Presiden Prabowo Isi Jajaran Wantimpres 2026

Photo Author
Tiarsin, Nawacita Post
- Sabtu, 3 Oktober 2026 | 13:09 WIB
Profil pengusaha Jusuf Hamka alias Babah Alun saat dilatik  sebagai anggota Wantimpres di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (Sekretariat Presiden)
Profil pengusaha Jusuf Hamka alias Babah Alun saat dilatik sebagai anggota Wantimpres di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (Sekretariat Presiden)
 
NAWACITAPOST.COM — Pengusaha jalan tol terkemuka, Mohammad Jusuf Hamka—yang akrab disapa Babah Alun—secara mengejutkan resmi ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk masuk dalam jajaran Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) periode 2026.
 
Penunjukan ini menandai babak baru perjalanan hidup sang taipan infrastruktur yang juga dikenal luas atas aksi kemanusiaannya.

Kabar mengenai amanat strategis tersebut disampaikan langsung oleh Jusuf Hamka menjelang prosesi pelantikan anggota Wantimpres yang digelar di Kompleks Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
 
 
Tokoh yang dikenal dengan gaya sederhananya ini menceritakan bahwa komunikasi mendadak terjadi pada Jumat pagi melalui saluran telepon dari Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.

“Jam 6.35 (pagi), ditelepon Pak Seskab. Saya kaget. Saya cuma bilang alhamdulilah, Pak, negara mempercayai saya,” kata Jusuf Hamka seperti dikutip ANTARA di Istana Negara.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan detail percakapannya bersama Seskab Teddy yang menegaskan bahwa penunjukan tersebut merupakan instruksi langsung dari Kepala Negara untuk memperkuat barisan penasihat kepresidenan.

“Betul, Bapak Presiden minta,” ujar Jusuf Hamka saat menceritakan percakapannya dengan Seskab Teddy.

Di balik rekam jejaknya sebagai raja jalan tol yang memimpin berbagai proyek strategis infrastruktur nasional, sosok Babah Alun memiliki latar belakang sejarah kehidupan yang unik dan mendalam.
 
 
Ia terlahir dengan nama Josef Alun dan memutuskan untuk memeluk agama Islam (mualaf) pada tahun 1981.
 
Proses pengucapan dua kalimat syahadat tersebut dibimbing langsung oleh ulama besar Nusantara, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka, yang sekaligus mengangkatnya sebagai anak.

Di samping keberhasilannya mengendalikan bisnis jalan tol, figur pria keturunan Tionghoa ini begitu melekat di benak publik lewat berbagai aksi sosial dan pembangunan fasilitas keagamaan.
 
Melalui Yayasan Masjid Babah Alun, ia mengusung cita-cita luhur untuk membangun hingga 1.000 masjid berarsitektur Tionghoa-Islam di berbagai pelosok wilayah Indonesia.

Dinamika kehidupan politik sempat menguji langkahnya ketika terjun ke panggung politik praktis bersama Partai Golkar. Pada tahun 2024, nama Jusuf Hamka sempat mencuat sebagai salah satu kandidat kuat dalam bursa pencalonan kepala daerah.
 
 
Namun, secara mengejutkan ia memilih mundur dari kepengurusan partai politik serta membatalkan niatnya bertarung dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Dalam surat pengunduran diri yang sempat menyita perhatian publik kala itu, Jusuf Hamka secara terbuka menegaskan keinginannya untuk berfokus melanjutkan program pembangunan Masjid Babah Alun di 38 provinsi serta kembali pada khitahnya sebagai pekerja sosial.
 
Faktor usia dan pertimbangan matang dari pihak keluarga turut menjadi pertimbangan utama di balik keputusan pengunduran dirinya dari arena politik.

Kendati sempat memilih jalan sunyi di luar lingkaran kekuasaan untuk fokus pada kegiatan sosial, panggil negara kini kembali membawa Jusuf Hamka ke pusat pengambilan kebijakan nasional.
 
Dalam susunan kepengurusan Wantimpres periode 2026 yang baru ditetapkan, mantan Menteri Sekretaris Negara Pratikno dipercaya menjabat sebagai Ketua, didampingi mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, sementara Jusuf Hamka memperkuat barisan sebagai anggota.
 

Menanggapi amanat baru di barisan Dewan Pertimbangan Presiden tersebut, Babah Alun menegaskan kesiapannya untuk mencurahkan pikiran dan pengalamannya demi kemajuan bangsa tanpa ragu-ragu.

“Kalau diminta negara, enggak boleh ditolak. Kita harus berbakti,” kata Jusuf Hamka.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tiarsin

Tags

Artikel Terkait

Terkini