NAWACITAPOST.COM - Puluhan warga Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, kembali beramai-ramai mendatangi kantor desa untuk mempertanyakan beberapa item terhadap Kepala Desa (Kades) Sumartono, pada Rabu (15/5/2024).
Informasi yang dihimpun wartawan Nawacitapost.com pada berita sebelumnya yang berjudul "Pertanyakan Kejujuran dan Transparansi Kades, Puluhan Warga Desa Kepuh Kertosono Datangi Kantor Desa" Kades Sumartono tak dapat ditemui dikarenakan masih berobat ke rumah sakit.
Baca Juga: Terkait Polemik Desa Tembarak Kertosono, Salah Satu Praktisi Hukum Buka Suara
Kades Kepuh Sumartono ketika diwawancarai berkata, jadi dari sebagian warga lewat Pak Dasat Mujianto itu meminta kejelasan, tentang aset Desa, tentang suatu hal yang belum dipahami oleh masyarakat, jadi saya beserta Pemerintah Desa (Pemdes) dan anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa), menyampaikan apa yang ditanyakan, apa yang sudah ditanyakan kita jawab secara wawancara dan secara tertulis.
"Itu banyak yang dipertanyakan, mulai dari aset Desa, kompensasi aset Desa, dan termasuk penggunaan APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) untuk apa saja, dan di mana saja tempatnya aset-aset Desa itu, itu kunci utamanya yang ditanyakan, dan masalah saluran, saluran yang dangkal itu diusulkan menurut petani banyak kerugian itu perlu segera dikerjakan," kata Sumartono, kepada awak media seusai pertemuan dengan para warga.
Lanjut Sumartono, untuk aset sebenarnya banyak sekali, kalau panjenengan tanya aset itu berarti semua kekayaan Desa, semua hasil kekayaan itu masuk ke APBDes, tadi sudah dijelaskan rinciannya satu persatu, jadi rinciannya itu berapa, itu banyak, dari pengelolaan aset juga ada Pendapatan Asli Desa (PADes).
"Tiap tahun ada pertanggungjawaban dipublikasikan, termasuk banner yang ada di depan, ini ada fotonya, cuman yang datang itu kan Pak RT (Rukun Tetangga) Pak RW (Rukun Warga) dan BPD, masyarakat itu kan banyak, ribuan, mungkin ada yang belum tahu akhirnya bertanya, tapi yang jelas itu sudah ada di informasi banner, contact person ada, email ada, kotak saran ada, semua ada," ujar Sumartono yang akrab disapa Martono.
Martono menambahkan, jadi yang tidak tahu silakan datang ke kantor, ya seperti ini, itu wujud transparansi kita, tadi yang hadir itu juga ada salah satu Ketua RW, Ketua RW - nya Bu Yuni itu juga mengakui kalau tiap tahun ada sosialisasi dan ada bannernya.
"Bu Yuni juga pakai aplikasi Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) langsung kita tampilkan, jadi tidak ada yang ditutup-tutupi, mungkin ada warga yang belum tahu, dan baru saja kemarin ada pengawasan dari inspektorat, tiap tahun juga ada pengawasan dari inspektorat, jadi aset Rp 1 (satu rupiah) pun kita harus masukkan ke APBDes," imbuhnya.