Semua itu harus diakui.
Tetapi wali kota tidak boleh hanya dinilai dari indikator makro. Ada indikator yang tidak mudah dimasukkan ke tabel BPS yaitu rasa percaya masyarakat.
Apakah warga masih percaya kepada pemerintah? Apakah RT/RW masih nyaman mengambil inisiatif? Apakah pemuda masih mau bekerja untuk kampung? Apakah warga masih mau patungan? Apakah kegiatan sosial tumbuh secara alami? Apakah kebudayaan lokal masih hidup? Apakah sejarah perjuangan masih dipahami anak-anak Surabaya?
Itulah indikator yang menentukan apakah Kota Pahlawan benar-benar hidup.
HUT RI ke-81: Jangan Hanya Merah Putih, Tapi Merah di Hati
Maka peringatan HUT RI ke-81 di Surabaya seharusnya menjadi momentum evaluasi.
Bukan hanya pesta. Bukan hanya lomba. Bukan hanya panggung. Bukan hanya spanduk. Bukan hanya pidato.
Tetapi pertanyaan serius: Ke mana arah Surabaya?
Apakah menjadi kota yang semakin modern tetapi semakin birokratis?
Atau kota modern yang tetap mempertahankan karakter kampung?
Apakah menjadi kota digital tetapi kehilangan budaya?
Atau kota digital yang justru memperkuat budaya?
Apakah menjadi Kota Pahlawan hanya karena memiliki sejarah?
Atau benar-benar melahirkan generasi yang memiliki jiwa kepahlawanan?
Dan yang paling penting:
Apakah Kampung Pancasila benar-benar hidup, atau hanya hidup ketika pejabat datang meresmikan?