Eri menambahkan, penanganan titik-titik genangan yang tersisa akan dilanjutkan secara bertahap hingga 2029. Pembiayaan alternatif juga diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang pembangunan, dengan alokasi sekitar Rp600 miliar untuk pekerjaan saluran pada 2027, berdasarkan proyeksi yang disampaikannya.
Ia berharap berbagai pekerjaan yang telah dilaksanakan dapat memberikan dampak positif saat musim hujan mendatang. Kendati demikian, ia menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan agar pembangunan yang telah menghabiskan anggaran publik benar-benar menjawab persoalan di lapangan.
Data Pemerintah Kota Surabaya yang dipublikasikan pada 6 Juli 2026 menyebutkan, dari 1.015 titik genangan yang dipetakan sejak 2020, sekitar 440 titik telah dituntaskan hingga 2025. Pada 2026, pemerintah kota menargetkan penanganan sekitar 120 titik tambahan melalui pembangunan drainase dan normalisasi saluran.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan genangan membutuhkan kesinambungan program, bukan hanya pembangunan dalam satu tahun anggaran. Pemerintah kota juga menyoroti pentingnya koordinasi dengan pemerintah pusat, terutama untuk normalisasi sungai yang berada di luar kewenangan pemerintah kota.
Eri berharap rangkaian pembangunan dan normalisasi yang sedang berjalan dapat membuat dampak genangan tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menekankan pentingnya menjaga infrastruktur yang sudah tersedia agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan penanganan banjir bukan hanya tercermin dalam laporan persentase pekerjaan atau panjang saluran yang dibangun. Ukuran paling nyata adalah ketika warga dapat beraktivitas lebih tenang, akses jalan tetap terbuka, dan air yang menggenangi permukiman dapat surut lebih cepat.
Karena itu, percepatan penyelesaian proyek, kepastian pembayaran pekerjaan, pemeliharaan rutin, dan evaluasi hasil di setiap titik akan menjadi bagian penting dalam memastikan upaya pengendalian banjir Surabaya benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat. ***