NAWACITAPOST.COM — Sumpah prajurit sirene ambulans memecah ketenangan kawasan Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Kamis (13/8/2026). Ratusan siswa sekolah menengah dilarikan secara bergelombang ke sejumlah fasilitas kesehatan menyusul dugaan insiden keracunan massal seusai menyantap hidangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di tengah kepanikan orang tua dan histeria publik yang menyaksikan barisan armada medis lalu lalang, keheningan berubah menjadi perdebatan hangat tatkala Kepala Daerah memberikan respons resminya.
Peristiwa yang bermula dari ruang-ruang kelas tersebut secara cepat bereskalasi menjadi krisis kesehatan publik berskala besar. Unggahan video yang beredar luas di berbagai platform media sosial merekam momen-momen mencekam saat puluhan siswa yang masih mengenakan seragam sekolah dituntun, digendong, hingga diusung menggunakan tandu menuju ruang gawat darurat. Kepanikan kian memuncak seiring bertambahnya armada ambulans yang mengular di jalanan kota.
Pernyataan Kontroversial di Tengah Krisis
Di tengah situasi darurat tersebut, Bupati Karo Antonius Ginting turun langsung meninjau para korban. Namun, alih-alih meredam kepanikan, deretan kalimat yang disampaikan sang kepala daerah justru memantik gelombang reaksi tajam dari masyarakat luas. Pernyataan Bupati Karo menuai sorotan lantaran dinilai kurang sensitif terhadap skala musibah yang melanda ratusan pelajar tersebut.
Di hadapan awak media yang menyemut di Rumah Sakit Amanda Berastagi pada Kamis malam, Antonius menegaskan bahwa kondisi para siswa berdasarkan peninjauan langsung pemerintah daerah berada dalam keadaan tidak mengkhawatirkan. Ia bahkan menyebut kondisi perkembangan medis tersebut sebagai sebuah kabar positif di tengah kabar simpang siur mengenai lonjakan jumlah korban.
“Jadi, dari anak sekolah yang kemungkinan, ini masih kemungkinan gejala keracunan ini semuanya tidak ada yang mengkhawatirkan. Semuanya kami lihat satu per satu,” ucap Antonius kepada awak media di RS Amanda Berastagi pada Kamis, (13/8/2026).
“Ini berita baik, kalau pun ada sesuatu kejadian, berita baiknya adalah semua anak-anak kita dalam keadaan baik,” imbuhnya.
Ketika disinggung mengenai penanganan lanjutan serta tanggungan beban finansial perawatan medis para korban, Antonius menegaskan penekanan pemerintah daerah yang saat ini berfokus penuh pada pemulihan kesehatan fisik para siswa.
“Kalau soal biaya, itu ada prosedur. Yang paling penting, kita pastikan dulu kesehatan anak-anak ini dan syukur Alhamdulillah, Puji Tuhan, ini situasi terakhirnya,” sambungnya.
Eskalasi Jumlah Korban dan Sebaran Rumah Sakit
Label 'berita baik' dan anggapan 'tidak mengkhawatirkan' yang dilontarkan pihak pemerintah daerah berbanding terbalik dengan fakta lapangan mengenai jumlah korban yang terus melonjak secara signifikan dari jam ke jam.
Kepala Cabang Dinas Wilayah IV Zulkarnain Barus memaparkan bahwa hingga Kamis sore, tercatat setidaknya 269 siswa terindikasi kuat mengalami gejala keracunan. Kluster korban tersebar di beberapa sekolah menengah atas dan kejuruan di wilayah Berastagi.
Asal Sekolah dan Jumlah Siswa Terdampak:
- SMAN 1 Berastagi: 204 Siswa
- SMA Swasta Bersama: 25 Siswa
- SMK Swasta Bersama: 40 Siswa
Baca Juga: Wali Kota Bekasi Guncang STIE Arlindo, Bongkar Rahasia Sukses Generasi Muda Era AI!
“Data ini kemungkinan masih terus bertambah ya,” ujar Zulkarnain kepada awak media pada Kamis, (13/8/2026).
Prediksi bertambahnya jumlah korban terbukti selang beberapa waktu kemudian. Laporan mutakhir yang dirilis oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Karo mencatat angka yang jauh lebih besar. Total korban yang terdata menjangkau 289 orang.
Sistem pelayanan kesehatan di Berastagi dan sekitarnya dipaksa bekerja ekstra keras untuk menampung gelombang pasien yang datang secara serentak. Distribusi penanganan medis para siswa terbagi ke dalam lima fasilitas kesehatan utama:
- RS Amanda Berastagi: Merawat total 157 siswa (137 siswa menjalani rawat inap intensif, 20 siswa rawat jalan).
- RS Efarina Berastagi: Merawat 90 siswa.
- RSUD Kabanjahe: Merawat 35 siswa.
- RS Mina: Merawat 4 siswa.
- Puskesmas Berastagi: Merawat 3 siswa.
Gelombang Kritikan Netizen di Media Sosial
Penggunaan diksi 'berita baik' oleh pucuk pimpinan daerah di saat nyaris 300 siswa terbaring di rumah sakit memicu reaksi keras di jagat maya. Berbagai potongan video wawancara Sang Bupati mendadak tular dan dipenuhi ribuan tanggapan dari warganet yang menyayangkan pilihan kata serta gestur empati pejabat publik dalam merespons kejadian luar biasa tersebut.
Kritik tajam mengalir deras mempermasalahkan narasi komunikasi krisis pemda yang dinilai mengabaikan rasa trauma para siswa dan kecemasan mendalam para orang tua korban.
“Padahal bisa memberi statement yang ada empatinya, seperti permintaan maaf dan janji evaluasi,” tulis akun @adr*******e dalam kolom komentar yang mendapat banyak dukungan warganet.
Kepanikan massa dan besarnya jumlah siswa yang harus menjalani perawatan rawat inap membuat publik mempertanyakan standar penanganan serta kepekaan pemerintah lokal terhadap indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB).
“Ini seperti sudah KLB kalau sebanyak itu yang jadi korban, kok responnya begitu?” tulis akun @lin****h.
Kendati demikian, tidak sedikit pula warganet yang mencoba melihat pernyataan tersebut dari sudut pandang yang lebih objektif dan berimbang, menilai bahwa fokus bupati adalah menyampaikan kejelasan kondisi medis para siswa yang telah stabil.
“Maksudnya mungkin anak-anak itu keadaannya sudah membaik, jadi tidak terlalu parah. Tapi memang tutur bahasanya kurang tepat,” tulis akun @dea**g.
Hingga berita ini diturunkan, investigasi mendalam terkait penyebab pasti timbulnya gejala keracunan massal dalam program MBG tersebut masih terus dilakukan oleh pihak berwenang, sembari menantikan pemulihan total ratusan siswa yang masih menjalani perawatan medis.(***)