Senin, 1 Juni 2026

Studi Komparasi Hasil Ujian Mahasiswa Tahun Pertama Perkuliahan pada Mata Kuliah Autoimun

Photo Author
Nawi., Nawacita Post
- Minggu, 5 Januari 2025 | 23:27 WIB
 dr. Deddy Hartanto, M.Imun, dipl.AAAM, dipl.CIBTAC (U.K.). Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. (Nawi)
dr. Deddy Hartanto, M.Imun, dipl.AAAM, dipl.CIBTAC (U.K.). Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. (Nawi)

Oleh: dr. Deddy Hartanto, M.Imun, dipl.AAAM, dipl.CIBTAC (U.K Departemen Imunologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. E-mail: [email protected]

NAWACITAPOST.COM - Tahun pertama perkuliahan berpengaruh terhadap mahasiswa dalam menempuh perkuliahan di tahun berikutnya. Rendahnya rata-rata nilai ujian akhir mahasiswa pada pembelajaran tatap maya menjadi pendorong dilakukan penelitian ini.

Sebanyak 40 mahasiswa program studi Pendidikan Dokter diberikan pembelajaran tatap maya dan tatap muka selama masing-masing setengah semester. Sebanyak 10 soal dengan bobot sama diberikan pada ujian tengah dan ujian akhir semester untuk dikerjakan selama 50 menit.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka menyebabkan terjadinya kenaikan nilai minimal ujian mahasiswa sebesar 14 poin (28%) sedangkan nilai maksimal naik dua poin (2,12%), rataan naik 14,41% dari 71,1 menjadi 81,35 dan nilai standar deviasi turun 12,4% dari 9,03497 menjadi 7,91477. Nilai sigma yang lebih

kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka lebih baik dari pada pembelajaran tatap maya. Hasil wawancara mendukung bahwa pembelajaran tatap muka lebih baik daripada pembelajaran tatap maya pada mata kuliah autoimun di program studi Pendidikan Dokter di tahun pertama perkuliahan.

Selama mengikuti perkuliahan selama satu semester, mahasiswa menempuh dua kali ujian, yaitu ujian tengah semester (Midtest) dan ujian akhir semester (Finaltest). Setelah mengikuti perkuliahan secara tatap maya selama setengah semester, mahasiswa menempuh ujian tengah semester (Midtest) dan pada akhir semester mereka mengikuti ujian akhir semester (Finaltest) dengan pembelajaran tatap muka.

Peneliti menggunakan hasil ujian Tengah (Midtest) semester dan hasil ujian akhir (Finaltest) semester untuk membandingkan hasil belajar mahasiswa yaitu sebanyak 40 mahasiswa yang mengikuti kedua ujian tersebut,

Sebanyak 40 mahasiswa program studi Pendidikan Dokter yang menempuh mata kuliah autoimun diambil datanya untuk nilai ujian tengah dan ujian akhir semester. Berdasarkan tabel 3, dari data nilai ujian tengah semester, diperoleh bahwa nilai minimal adalah 50 poin dan nilai maksimal adalah 94 poin. Sedangkan dari data ujian akhir semester menunjukkan bahwa nilai minimal 64 dan nilai maksimal 96.

Pembelajaran tatap muka menyebabkan terjadinya kenaikan nilai minimal ujian mahasiswa sebesar 14 poin (28%). Sedangkan nilai maksimal ujian mahasiswa mengalami kenaikan dua poin (2,12%). Hasil ujian tengah semester (Midtest) mahasiswa memiliki rata-rata 71,1 dan hasil ujian akhir mahasiswa mempunyai rata-rata nilai 81,35 seperti tampak pada tabel 3.

Berdasarkan nilai rataan tersebut dapat dikatakan bahwa terjadi kenaikan nilai rataan pada ujian akhir mahasiswa. Kenaikan sebesar 14,41% dari nilai ujian tengah semester dialami oleh mahasiswa. Dengan nilai kriteria ketuntasan minimal yang ditentukan oleh dosen pengampu mata kuliah yaitu 70, maka sebanyak 14 mahasiswa (35%) memiliki nilai dibawah

KKM pada saat mengikuti ujian tengah semester. Setelah mengikuti pembelajaran secara tatap muka, maka pada saat ujian akhir semester terdapat empat (10%) mahasiswa yang memiliki nilai di bawah KKM. Terdapat kenaikan sebesar 25% mahasiswa yang di atas KKM.

Dapat dikatakan bahwa pembelajaran tatap muka mengakibatkan kenaikan banyaknya mahasiswa yang memiliki nilai di atas KKM sebesar 25%. Selain nilai rataan yang mengalami perubahan cukup besar, standar deviasi juga mengalami penurunan sebesar 12,4% dari 9,03497 menjadi 7,91477.

Ini menunjukkan bahwa penyebaran data di sekitar rataan makin berkurang sebarannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran tatap muka mengakibatkan penurunan persebaran data sebesar 12,4%. Dari hasil uji hipotesis, didapatkan signifikansi sebesar 0,00 < 0,05. Karena hasil perhitungan nilai Sig.( 2-tailed) < 0,05, maka dapat dikatakan bahwa terdapat peningkatan skor pada penerapan pembelaran tatap muka.

Berdasarkan hasil wawancara terhadap dua mahasiswa yang dipilih secara acak, dapat dikatakan bahwa dengan pembelajaran tatap muka mahasiswa lebih mudah memahami materi perkuliahan sehingga dapat menguasai materi yang diberikan secara lebih baik (Im, Yoon, & Cha, 2016; Son, Han, Kang, & Kwon, 2016).

Halaman:

Editor: Nawi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini