NAWACITAPOST.COM — Pencapaian gemilang Prof. Suahasil Nazara, S.E., M.Sc., Ph.D. yang resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia menggantikan Purbaya menuai decak kagum luas dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Tokoh hukum nasional, Agustus Gea, SH, menilai keberhasilan putra terbaik asal Pulau Nias ini bukanlah sebuah proses yang instan, melainkan buah dari rekam jejak perjuangan yang sangat panjang, gigih, dan konsisten di ranah birokrasi serta akademis.
Agustus Gea, SH menyoroti bahwa perjalanan karier Suahasil Nazara mengikuti jejak monumental tokoh Nias lainnya, seperti Yasonna H. Laoly, yang secara fenomenal berhasil memimpin Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia selama hampir dua periode berturut-turut dengan torehan prestasi gemilang, termasuk predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI.
Baca Juga: Reshuffle Kabinet Merah Putih: Prabowo Percayakan Tampuk Menteri Keuangan pada Suahasil Nazara
"Keberhasilan Suahasil Nazara menjadi Menteri Keuangan tidak ujuk-ujuk, tetapi melalui perjuangan yang panjang," tegas Agustus Gea, SH.
Menurut Agustus Gea, SH, dedikasi dan kapasitas intelektual Suahasil telah teruji sejak ia menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) di bawah kepemimpinan Sri Mulyani Indrawati.
Pada masa itu, rekam jejak Suahasil bahkan disandingkan dengan tokoh legendaris alm. Hekinus Manaö, di mana Sri Mulyani secara terbuka menilai bahwa sosok Suahasil tidak sekadar mumpuni memimpin badan teknis, melainkan sangat layak menduduki kursi menteri kabinet.
Meskipun terlahir sebagai anak seorang bupati pada masanya, Suahasil dikenal tetap rendah hati, tekun menimba ilmu, hingga berhasil merengkuh gelar Profesor dan dipercaya menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI)—sebuah posisi prestisius yang menjadi dambaan akademisi nasional.
Perjalanannya berlanjut saat dipercaya mengisi posisi strategis sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), sebuah amanah berat yang dilakoninya dengan penuh kesabaran dan ketenangan sebelum akhirnya dipercaya memegang kendali penuh atas korps bendahara negara.
Menanggapi fenomena sosial yang muncul pasca-pelantikan, Agustus Gea, SH mengungkapkan bahwa sorotan publik sering kali hanya tertuju pada puncak kejayaan tanpa memahami tetes keringat di balik proses tersebut.
Skenario klasik pun terulang, di mana banyak pihak mendadak mengaku sebagai kerabat, keponakan, hingga sibaya (paman dalam adat Nias), persis seperti peristiwa yang dialami Yasonna H. Laoly saat pertama kali menjabat Menkumham.
Menutup keterangannya, Agustus Gea, SH menyampaikan apresiasi mendalam sekaligus doa bagi keberhasilan tugas negara yang kini diemban oleh Suahasil Nazara di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.
"Selamat ya Bro mengemban tugas berat ini, mudah-mudahan Tuhan menolongmu," tutur Agustus Gea, SH.