politik

Peluang Gerindra Rebut Surabaya 2029, BHS-Cahyo-Yona Diuji: Mesin Politik atau Sekadar Efek Prabowo?

Selasa, 25 Agustus 2026 | 10:28 WIB

 

SURABAYA, NAWACITAPOST.COM — Pemilu 2029 memang masih beberapa tahun lagi. Namun, peta pertarungan politik Surabaya sudah mulai bergerak. Partai Gerindra perlahan menempatkan dirinya sebagai kekuatan paling serius untuk menantang dominasi PDI Perjuangan yang selama bertahun-tahun menjadi kekuatan utama di Kota Pahlawan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Gerindra mampu bertambah kursi. Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah: mampukah Gerindra merebut posisi nomor satu di DPRD Surabaya pada 2029? Secara matematis, peluang itu terbuka.

Pada Pemilu 2024, PDI Perjuangan memperoleh 336.698 suara dan delapan? Tidak. PDIP mengamankan 11 kursi, sedangkan Gerindra memperoleh 241.231 suara dan delapan kursi. Partai-partai di bawah keduanya masih berada cukup jauh: PKB 159.362 suara, Golkar 136.814, PKS 135.733, dan PSI 133.236 suara.

Artinya, Gerindra sudah berada di posisi penantang utama, bukan sekadar partai papan tengah. Selisih Gerindra dengan PDIP sekitar 95 ribu suara. Angka itu memang besar, tetapi dalam politik elektoral tidak mustahil dikejar jika Gerindra mampu menambah basis suara sekaligus mempertahankan suara yang diperoleh pada 2024.

Justru karena itu, Pemilu 2029 berpotensi menjadi pertarungan paling menarik antara dua kekuatan tersebut.

Dari delapan kursi, mengincar takhta

Gerindra mengalami peningkatan dibanding Pemilu 2019 dan berhasil menempatkan delapan kader di DPRD Surabaya periode 2024–2029. Komposisi tersebut membuat Gerindra menjadi partai terbesar kedua di parlemen kota. Modal tersebut kemudian diperkuat dengan konsolidasi organisasi.

Gerindra Surabaya bahkan sudah secara terbuka mempersiapkan strategi menuju 2029. Dalam kegiatan retret kader, partai membahas penguatan struktur sampai tingkat PAC dan ranting serta pemetaan kerja politik berbasis wilayah. Gerindra juga mendorong kemungkinan peningkatan jumlah kursi DPRD Surabaya dari 50 menjadi 55 apabila persyaratan kependudukan dan aturan pembentukan dapil terpenuhi. Secara politik, target tersebut menarik.

Jika kursi DPRD bertambah, kompetisi akan membuka ruang baru. Tetapi bertambahnya jumlah kursi juga berarti semua partai mempunyai kesempatan untuk memperbesar representasi. Dengan kata lain, 55 kursi tidak otomatis menguntungkan Gerindra. Tetapi tetap harus memenangkan pertarungan suara di setiap dapil.

BHS, Cahyo dan Yona

Di titik inilah figur menjadi penting. Gerindra Surabaya memiliki beberapa nama yang mempunyai bobot politik berbeda.

Bambang Haryo Soekartono (BHS) merupakan salah satu figur senior yang mempunyai pengalaman politik, jaringan serta posisi di lingkungan struktur Gerindra Jawa Timur. BHS juga masih tampil dalam berbagai agenda konsolidasi Gerindra Surabaya.

Pada Maret 2026, misalnya, BHS hadir dalam kegiatan silaturahmi dan konsolidasi kader Gerindra Surabaya yang dipimpin Ketua DPC Gerindra Surabaya Cahyo Harjo Prakoso. Kegiatan tersebut melibatkan pengurus DPC, PAC, ranting dan sayap partai.

Cahyo sendiri memiliki posisi strategis sebagai Ketua DPC Gerindra Surabaya. Posisi ini membuat dirinya menjadi salah satu aktor penting dalam menentukan arah konsolidasi partai menuju 2029.

Sementara Yona Bagus Widyatmoko merupakan salah satu kader Gerindra yang memiliki posisi di DPRD Surabaya dan tercatat sebagai kader terpilih Gerindra dari Dapil 5. Yona juga berhasil mengatur ritme pileg di Surabaya. 

Selain mereka, ada nama Bahtiyar Rifai, yang menjabat Sekretaris DPC Gerindra Surabaya sekaligus Wakil Ketua DPRD Surabaya. Bahtiyar menegaskan bahwa konsolidasi hingga tingkat ranting menjadi bagian penting persiapan menuju 2029.

Halaman:

Tags

Terkini

Kapan Warisan Keraton Yogyakarta Dipulangkan Inggris?

Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:18 WIB