Jumat, 5 Juni 2026

Rawan Konflik Sosial, Kandidat di Pilkada Majalengka Diminta Redam Gejolak di Masyarakat

Photo Author
Nurjayakbe, Nawacita Post
- Selasa, 19 November 2024 | 22:55 WIB
Ketua Dewan Pembina Tax Center FISIP UIN Bandung, Khaerul Umam
Ketua Dewan Pembina Tax Center FISIP UIN Bandung, Khaerul Umam

Majalengka, NAWACITAPOST.COM – Dinamika politik menjelang Pilkada Majalengka 2024 kian memanas. Hal itu mendapat perhatian serius salah satunya ialah Ketua Dewan Pembina Tax Center FISIP UIN Bandung, Khaerul Umam, ia memberikan analisis mendalam terkait kondisi di Kabupaten Majalengka saat ini.

Khaerul Umam mengingatkan semua pihak untuk menjaga suasana tetap kondusif demi keberlanjutan pembangunan daerah.

"Pilkada Majalengka terlalu banyak sandiwara. Para pendukung kandidat sering saling menjatuhkan, padahal para cabup sebelumnya pernah berlayar di perahu yang sama (di Pemda Majalengka)" ungkap Khaerul, Selasa (19/11/2024).

Menurut akademisi keturunan Majalengka ini, gesekan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat ini berpotensi memicu konflik sosial, terutama jika tensi politik dibiarkan terus meningkat.

"Majalengka punya posisi strategis sebagai pionir di Kawasan Segitiga Rebana. Jika terlalu panas, konflik politik ini bisa menghambat proses pembangunan yang sedang berjalan," ucapnya.

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu juga memberikan perhatian khusus pada polarisasi yang terjadi di masyarakat. Ia menyebut bahwa kampanye yang saling menjatuhkan hanya akan memperparah keadaan dan berpotensi menciptakan konflik pasca-Pilkada.

"Para calon dan pendukungnya harus segera meredam tensi politik. Jangan sampai gesekan di lapangan semakin panas, karena ini bisa berdampak buruk pada masyarakat. Saling menjatuhkan itu tidak perlu dilakukan terlalu dalam," tegasnya.

Ia mengajak kedua calon dan tim sukses masing-masing untuk menunjukkan komitmen menjaga kerukunan di tengah perbedaan pilihan.

Menurutnya, Pilkada seharusnya menjadi ajang untuk menawarkan gagasan terbaik, bukan menciptakan perpecahan.

Butuh Pemimpin Berpengalaman.
Selain itu, Khaerul mengungkapkan, Majalengka saat ini dan kedepan membutuhkan pemimpin yang memiliki pemahaman mendalam tentang kebijakan, baik di tingkat internal maupun eksternal.

"Seorang pemimpin harus paham bagaimana mengelola kebijakan anggaran untuk kepentingan internal birokrasi, seperti pegawai negeri, sekaligus memperluas hubungan eksternal dengan politisi, pemerintah provinsi, hingga pusat," jelasnya.

Menurut Khaerul, kemampuan ini penting untuk menarik anggaran dan mendukung percepatan pembangunan di Majalengka.

Dia menyatakan, pemimpin yang diperlukan Majalengka bukan hanya sekadar populer, melainkan yang benar-benar memahami politik dan kebijakan lintas sektor, termasuk lintas partai.

"Majalengka sedang dalam proses pembangunan. Kita butuh pemimpin yang tidak hanya mengerti birokrasi, tapi juga mampu menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak untuk memastikan pembangunan berjalan lancar," ungkapnya.

Halaman:

Editor: Nurjayakbe

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB