Jumat, 5 Juni 2026

AHY Bersama PKS Tersingkir Di Panggung Politik Nasionalis, Terperangkap Isu Radikalisme

Photo Author
Ronaldy, Nawacita Post
- Sabtu, 5 Juni 2021 | 17:14 WIB
Jakarta, NAWACITAPOST - Sudah bukan rahasia lagi, rekam jejak PKS di kabinet SBY tahun 2004 - 2009 dan 2009 -2014 begitu kuat. Ada 4 menteri  ; Pertanian, Kominfo, Sosial serta Riset dan Teknologi. PKS dianggap ikut gerbong Demokrat dalam pencapresan SBY. 

Baca Juga : Tak Dimasukan Dikabinet Presiden Jokowi, Demokrat Dan PKS Lontarkan Kemunduran Demokrasi



BUKAN hanya PKS yang menikmati kue kekuasaan era SBY, Kelompok eks FPI dan HTI pun begitu leluasa menancapkan kuku kekuasaannya, berupa faham intoleren cenderung radikalisme. Sejarah mencatat juga, begitu harmonis dan dekatnya FPI terutama HTI begitu dekat dengan PKS.

Semacam ada simbiosis mutualisme diantara keduanya. Pancasila sebagai dasar negara kala era SBY, oleh dua eks kelompok tersebut dianggap semacam lelucon, mungkin juga dagelan yang kerap diganggu. Monopoli kebenaran menjadi  miliknya.

Jejak itu berlanjut, ketika Demokrat dipimpin AHY, saling mengunjungi dan memberi pesan kuat  menuju 2024 sudah tak terbantahkan, 22 April 2021 kunjungan Presiden PKS Ahmad Syaiku ke kantor Demokrat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sebelumnya 24 Jukli 2020 AHY bertandang ke kantor PKS di kawasan TB Simatupang di terima Presiden PKS kala Itu Sohibul Iman.

Demokrat AHY diterima mantan Presiden PKS Sohibul Iman di kantor PKS Kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, 24 Juli 2020

Sepertinya pertemuan Demokrat AHY dan PKS sinyalemennya akan memainkan isu politik identitas di Pilpres dan Pilkada serentak 2024. Pikirnya, formula ini untuk dapat meraih simpati dari para pemilih di percaturan politik 2024.

Hal itu juga semacam harapan satu-satunya. Sebab jualan program konstruktif tak mungkin bisa mendongkrak elektabilitas Demokrat dan PKS.

Sepertinya dua partai ini bisa dibilang jualan di setiap pemilu mengedapankan dan mengutamakan politik identitas, jika Demokrat secara sembunyi-sembunyi (toh ketahuan juga), PKS justru terang-terangan dengan menyasar kaum milenial intelektual yang melek medsos dengan iming-imingi racun menjeremuskan.

Namun, perlu diketahui Politik itu  rekam jejak (baca : kini era digital), berformat logika dan perlu program bukti bukan janji.  Bisa dipastikan 2024 Demokrat dan PKS perlahan mulai tenggelam, bukan karena  matahari terbenam, tetapi dua partai itu tenggelam karena ulahnya sendiri.

Mungkin jika jualannya 20 tahun lalu, poltik identitas banyak yang melirik, dan bersimpati kepada jualan tersebut, tetapi kini isu itu tak menarik lagi.

Jadi, tepat yang mengatakan AHY dan PSK  tersingkir di panggung nasionalis, karena terperangkap isu radikalisme yang akan dimainkannnya.

Editor: Ronaldy

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB