Baca Juga : Pembangkangan Gatot Nurmantyo Bisa Berujung Pada Hukum
Gatot pun menjadi juru kampanye Edy yang mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut. Edy Rahmayadi yang berpasangan dengan Musa Rajeskshah memenangkan ajang Pilkada Sumut. Beredar kabar nyata secara rekam jejak, bahwa pola kampanye Edy rupanya meniru kampanye Anies. Gerakan beribadah subuh hari di masa tenang pun digencarkan secara masif. Penonjolan identitas agama mengental dalam aksi kampanyenya. Yang menurut berbagai kalangan, inilah kemenangan Edy sebagai orang nomor satu Sumut.
Gatot Nurmantyo (ujung kanan) saat menjadi saksi nikah anakanya Edy Rahmayadi, Siti Andira Rahmayana - Arifuddin Maulana Basri
Kala puteri Edy Rahmayadi bernama Siti Andira Rahmayana menikah dengan Arifuddin Maulana Basri. Gatot Nurmantyo menjadi saksi pernikahannya. Bisa dibilang permintaan Edy saat dimiliter selalu dikabulkan Gatot, begitupun saat Edy sebagai Gubernur, permintaan Gatot pun kerap dikabulkan Edy.
Gatot setelah pensiun dari militer menjadi deklarator KAMI, yang kerap merongrong pemerintah dengan kritik tanpa solusi. Presiden Jokowi perlu diganti selalu menjadi suara kunci utama pernyataan KAMI. Kelompok pentolan KAMI ini sebagian besar adalah mantan pejabat yang baperan alias menyinyir ke Jokowi secara asal bunyi. Warna politik identitas pun kerap digaungkan kelompok KAMI.
Memang Edy Rahmayadi tak masuk dalam struktur KAMI. Dan, Gatot pun menyatakan bahwa KAMI adalah gerakan moral. Namun, berbagai kalangan menegaskan KAMI adalah gerakan moral yang ditunggangi kepentingan politik. Selalu (KAMI) berseberangan dengan Presiden Jokowi menjadi ciri khas kelompok ini.
Kembali ke soal Edy Rahmayadi. Jika merujuk pada kehadiran Gatot di Kampanye Edy dan pernikahan anaknya Edy. Bisa dibilang permintaan Gatot pasti dikabulkan Edy. Mungkin saja, Keberadaan KAMI yang akan berada di berbagai daerah di Indonesia, ada bantuan dari mantan Pangkostrad yang juga mantan Ketua Umum PSSI.