Jakarta, NAWACITAPOST – Setelah Sekretaris Dewan Pengurus Daerah Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (DPD HIMNI) Kalimantan Barat, Pdt, Ary Mendrofa S.Th mengapresiasi langkah Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias (BPPPKN) bertemu Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI, La Nyalla Mahmud Mattalitti di ruang kerjanya belum lama berselang, terkait pembentukan Kepulauan Nias (Kepni) menjadi provinsi.
Baca Juga : Sekretaris DPD HIMNI Kalbar Apresiasi Langkah BPPPKN Bertemu Ketua DPD RI, La Nyala Mattaliti
Kali ini pandangan sedikit berbeda, tapi dalam nuansa mendukung Kepni sebagai provinsi atau daerah tingkat I bukan untuk saat ini.
Turunan Gulo bisa disebut salah satu tokoh peduli Kepni, dalam pendapatnya yang disampaikan melalui WhatsApp nya kepada nawacitapost belum lama berselang.
“Kita patut berterima kasih kepada teman-teman dan senior yang terus memperjuangkan pembentukan Provinsi Kepni. Ini mimpi kita sejak lama. Sudah lama kita perjuangkan. Bahkan nyaris ketuk palu pada akhir September 2014 silam. Tapi, tampaknya kita harus ekstra sabar, juga ekstra bijak. Pintu moratorium belum dibuka Presiden Jokowi. Kita juga lagi pontang-panting menghadapi serangan Covid-19 yang, tidak hanya mengancam nyawa anak negeri, sekaligus memorakporandakkan perekonomian kita. Jelas, ruang fiskal kita dalam posisi amat-sangat terbatas. Kalau tidak dibilang lagi pendarahan--defisit berat,” tutur Turunan.
“Kalau pun pulih dalam waktu dekat ini, mesti diingat, bahwa di kepala Presiden Jokowi, yang jadi prioritas utama adalah pembangunan Ibu Kota Baru RI. Ini butuh dana yg amat besar. Kenapa ini prioritas buat beliau? Legacy! Beliau ingin meninggalkan jejak monumental yg ingin dikenang dalam gerak sejarah republik ini. So (jadi), kita perlu mafhum situasi kebatinan ini, “ujar Turunan yang masih disampaikan melalui WhatsAppnya.
Menilik penuturan Turunan, bahwa memang situasi sekarang ini tidaklah mudah menjadikan Kepni sebagai provinsi. Selalin karena masih adanya pandemi Covid -19, bencana alam yang terjadi di negeri ini (gempa bumi, banjir, gunung meletus, dan longsor).
Persoalan-persoalan ini harus menjadi catatan semua elemen anak bangsa. Meminjam kalimat pengusaha nasional, Sarman Simanjorang (baca : khusus bencana) adalah tanggung jawab bersama. Jadi pembentukan Kepni sebagai provinsi tidak mudah untuk sekarang ini.