NAWACITAPOST.COM - 14 Februari 2024 lalu, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sedang berlangsung dengan partisipasi pemilih mencapai rekor tertinggi, yakni 83,16%, dibandingkan dengan pemilihan sebelumnya.
Antusiasme dan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak pilih mereka terlihat sangat kuat, seperti yang diamati oleh puluhan jurnalis dari MAKINews.com di berbagai lokasi, termasuk beberapa kabupaten dan kota.
Pukul 10:00 WIB menjadi puncak lalu lintas masyarakat menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS), sesuai dengan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dapat diakses dengan mudah, baik di TPS maupun melalui internet.
Baca Juga: Menunggu Sidang, MAKI Jatim Gali Potensi Saksi Ahli untuk Kasus Korupsi di Primkop UPN Veteran
Hasil quick count menunjukkan secara merata bahwa pasangan calon nomor 2, Prabowo dan Gibran, berada dalam posisi unggul sebagai calon pemenang Pemilihan Presiden kali ini dengan tingkat keterpilihan rata-rata 55-56% di masyarakat.
Meskipun demikian, terdapat ketidaksesuaian antara hasil quick count Pilpres dan keterpilihan partai politik dalam Pemilu.
Heru Satriyo, S.Ip, Pengamat Politik Rakyat Jelata ( PPRJ ) sudah memprediksi, bahkan dalam Desember akhir tahun 2023, tertera juga beritanya di MAKINews.com bahwa Prabowo–Gibran akan menjadi Pemenang Pilpres 2024 dan secara terbuka.
Baca Juga: MAKI Jatim: OTT KPK di Sidoarjo, Bupati Muhdlor masih Melenggang!
Dalam pemberitaan tersebut, Heru juga sempat menyampaikan bahwa Pilpres hanya akan berlangsung 1 (satu) Putaran ( makinews, desember 2023 ).
” Sebenarnya statement saya pada saat itu ( akhir bulan desember 2023 ) berpatokan pada Efek maha dahsyat dari Jokowicentris dan Khofifahcentris yang melebur menjadi satu kekuatan pengarah, kaitannya dengan bagaimana akhirnya masyarakat Indonesia mengikuti pilihan dari mereka berdua,” ungkap Heru.
Maksutnya, menurut Heru, masyarakat dapat melihat dan menyaksikan bersama, bagaimana Cawapres Gibran dengan segala perjuangan yang ada, akhirnya SAH menjadi Cawapres Prabowo.
Terlepas dari banyalnya pihak yang kecewa dengan “usaha” tersebut, kemudian ditambah bagaimana kita bisa mencermati bahasa tubuh seorang Khofifah ketiika harus berdampingan dengan Anies Baswedan, bahkan ketika harus berdampingan dengan sekelas Megawati Sukarno Putri sekalipun.
"Yang saya tangkap, pada saat itu bahwa memang Khofifah Indar Parawansa yang saat itu menjadi Gubernur Jawa Timur secara implisit akan mendukung Paslon 02, Prabowo – Gibran,” ungkap Heru yang juga ketua MAKI Jatim dan NTB.