NAWACITAPOST.COM — Menanam modal di sektor otomotif kerap menyisakan dilema tersendiri, terutama bagi konsumen yang membidik kendaraan di rentang harga Rp700 hingga Rp800 jutaan.
Di kelas harga ini, pembeli dihadapkan pada dua kutub teknologi yang sama-sama menggoda, murni bertenaga listrik lewat Hyundai Ioniq 5 atau mengandalkan teknologi ramah lingkungan tanpa recharge kabel melalui Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid.
Namun di balik kemewahan kabin dan kecanggihan fitur yang ditawarkan, ada satu hukum besi pasar otomotif sekunder yang kerap menentukan keputusan akhir: seberapa besar sisa nilai jual (resale value) kendaraan tersebut setelah dua tahun melenggang di jalanan Indonesia?
Berdasarkan dinamika bursa mobil bekas dan pantauan bursa kendaraan seken di kota-kota besar, benturan nilai sisa antara kedua model ini menunjukkan angka yang cukup mencolok.
Mobil listrik murni Battery Electric Vehicle (BEV) seperti Hyundai Ioniq 5 varian Signature Long Range yang saat pembelian barunya dibanderol kisaran Rp780 hingga Rp830 juta umumnya mengalami koreksi harga di pasar sekunder.
Setelah dua tahun pemakaian, unit bekasnya kini berada di kisaran angka Rp430 hingga Rp480 juta. Artinya, terjadi penyusutan nilai atau depresiasi sekitar 40 hingga 45 persen, menyisakan nilai sekitar 55 persen dari harga awal.
Faktor utama di balik merosotnya harga Ioniq 5 di pasar bekas tidak lepas dari cepatnya siklus inovasi teknologi kendaraan listrik global.
Kehadiran model-model baru dengan baterai berdaya jelajah lebih jauh, ditambah kebijakan koreksi harga mobil baru dari pabrikan, membuat konsumen mobil seken bersikap sangat hati-hati.
Terlebih lagi, bayangan psikologis mengenai kesehatan baterai traksi bertegangan tinggi di luar masa garansi masih menjadi pertimbangan tersendiri bagi pembeli mobil bekas.
Sebaliknya, kubu kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV) melalui Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid tipe tertinggi menunjukkan ketangguhan finansial yang jauh berbeda.
Dibeli pada kisaran harga mendekati Rp700 jutaan, mobil keluarga andalan Toyota ini justru memperlihatkan kurva depresiasi yang sangat landai.
Di pasar mobil bekas, Innova Zenix Hybrid setelah dua tahun pemakaian masih sanggup bertahan di angka Rp500 hingga Rp530 juta.
Penurunan nilainya relatif sangat kecil, yakni hanya berkisar di angka 20 hingga 25 persen saja, dengan sisa nilai aset mencapai 75 hingga 80 persen.
Kokohnya harga jual kembali Zenix Hybrid didorong oleh kekuatan merek yang mengakar kuat serta kepercayaan konsumen terhadap lini "Kijang" yang sudah teruji puluhan tahun.
Selain itu, sistem hibrida dinilai sebagai jalan tengah yang paling rasional bagi masyarakat Indonesia saat ini.
Pengguna tidak perlu dipusingkan dengan keterbatasan infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), sehingga jangkauan pasar untuk menjualnya kembali terbuka sangat luas hingga ke berbagai daerah pelosok.
Pada akhirnya, angka-angka ini menyuguhkan dua perspektif investasi yang bertolak belakang.
Bagi pembeli pertama yang mementingkan keamanan finansial dan likuiditas jangka pendek, Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid jelas keluar sebagai pemenang dalam mempertahankan pundi-pundi asetnya.
Namun di sisi lain, tajamnya depresiasi pada Hyundai Ioniq 5 justru menjadi berkah tersendiri bagi pemburu mobil bekas cerdas, di mana mereka bisa menikmati mahakarya teknologi listrik mewah dengan potongan harga yang masif tanpa harus membayar harga premi kendaraan baru.
Artikel Terkait
Pesta Gol di UEFA Nations League: Inggris Bantai Kroasia 7-0, Spanyol Tundukkan Ceko 3-1
Update Mutasi Polri: Jenderal Suyudi Pimpin Sertijab Strategis dan Kenaikan Pangkat Perwira Tinggi
Sidak Ombudsman Bongkar Praktik Pungli dan Hunian Tak Manusiawi di Lapas
Dapur MBG Tak Jalan, Agus Sulistriyono Sentil Mental Pengusaha yang Ogah Rugi
Gempa M6,1 Guncang Sumba dan M5,9 Beruntun Hantam Aceh, BMKG Imbau Kewaspadaan