Refkeksi Hari Kabangkitan Nasional 2024
NAWACITAPOST.COM - Kita semua patut bersyukur hidup di Indonesia, sebuah negeri yang subur dan makmur, memiliki suasana yang damai, apa yang kita butuhkan semua ada di negeri ini. Nenek moyang kita telah mewarisi sumber daya alam yang utuh untuk anak cucu kita, hingga saat ini kita tidak merasa kekurangan dibandingkan dengan negara lain.
Rasa kebersamaan dan toleransi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jiwa warga bangsa yang majemuk. Semua dibangun atas kesadaran berbangsa dan bernegara sejak negara ini diperjuangkan oleh para pendahulu kita.
Baca Juga: Makna Strategis NU Dalam Pilihan Kepala Daerah
Kekayaan yang kita miliki, kebersamaan dan toleransi yang bagus tersebut, pelan - pelan telah mulai pudar bersamaan dengan kemajuan tehnologi, ekonomi, sosial dan budaya. Secara umum problematika bangsa Indonesia saat ini adalah kemiskinan yang masih tinggi, literasi digital yang masih rendah, kasus kekerasan dan fanatisme kelompok atau golongan intoleran, tingkat stunting yang masih tinggi, pengelolaan sumber daya alam yang kurang profesional, KKN yang semakin menggila dan rasa Nasionalisme sebagai warga bangsa yang semakin menipis.
Dari semua problematika yang ada di atas, sudah banyak orang yang menyadari dan merasakan, namun semua merasa bingung dari mana semua problematika tersebut mulai di urai. Namun semua sepakat, berubahnya perilaku masyarakat tersebut buah dari dibukanya kran kebebasan warga bangsa untuk mengekspresikan Fikiran dan gagasannya saat reformasi digulirkan sejak tahun 1998.
Baca Juga: Mencermati Perubahan Perilaku Politik Kader NU dan Konstruksi Pemikiran Kader NU
Kebijakan Politik Yang Salah
Reformasi telah memberikan ruang yang sangat luas pada masyarakat untuk melakukan sesuatu yang dianggap penting dan bermanfaat tapi tidak disediakan aturan yang membersamainya. Rakyat Indonesia cerdas cerdas, namun kecerdasan tersebut tidak disertai dengan sebuah sikap yang mengilhami hati dan fikiran yang arif dan bijaksana.
Kebijakan politik dan perubahan perilaku politik para pemimpin bangsa ini memiliki Andil yang besar dalam perubahan sikap masyarakat. Hal tersebut dapat kita lihat dari keluarnya produk hukum yang tidak mencerminkan norma sosial, agama dan adat istiadat, sehingga produk tersebut tidak mampu menjadi solusi jalan tengah terhadap masalah bangsa. Banyak kebijakan politik yang melampaui ambang batas norma, perilaku politisi dan pejabat yang korup akibat cost biaya politik tinggi sehingga melahirkan aparatur yang tidak memiliki hati nurani yang baik.
Baca Juga: Jiwa Besar Prabowo dan Makna Strategis NU
Menjadi warga bangsa yang cerdas harus kita mulai dari sekarang dengan merubah paket UU tentang Politik dan Pendidikan. Bukti telah bicara, ketika Paket UU Politik (khususnya paket UU Pemilu) yang mengatur tentang rekruitmen pemimpin Nasional yang syarat terhadap KKN, akhirnya memberikan pendidikan yang salah pada bangsa ini. Disisi lain, kebijakan bidang pendidikan yang lebih mengejar kecerdasan dari pada etika dan akhlaq membuat output peserta didik pandai tetapi tidak punya hati nurani.
Moral sebagai penuntun hidup manusia harus dibangun dengan baik agar rasa saling menghormati, saling menghargai dan bagaimana hidup bersama dilakukan dengan benar. Nilai luhur berupa adat istiadat yang mampu membuat orang memiliki kepribadian dihapus untuk memaksimal hasil pendidikan yang mendorong kecerdasan ansih.
Baca Juga: Ansor dan Dinamika Politik Indonesia
Mengokohkan Rasa Nasionalisme
Arus globalisasi di semua lini kehidupan telah menghasilkan manusia yang malas, apatis terhadap masalah, kepedulian rendah dan individualis. Generasi muda Indonesia telah kehilangan nilai luhur perjuangan bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan yang mengorbankan jiwa dan raga. Generasi muda melihat enaknya menjadi warga negara yang serba mudah, bahkan menjadikan IT sebagai barang baru yang dia dewakan.