Sabtu, 18 Juli 2026

Idul Fitri dan Sekolah Kehidupan

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Minggu, 14 April 2024 | 06:00 WIB
HM Basori M.Si (foto istimewa)
HM Basori M.Si (foto istimewa)

NAWACITAPOST.COM - Tradisi silaturrohim dengan saudara, sahabat dan para masyayikh merupakan tradisi Islam Indonesia yang telah berjalan turun menurun sejak nenek moyang kita. Orang lain bilang bid'ah kita dengarkan saja, karena tradisi Lebaran dengan bermaaf - maafan, makan - makan dan sowan pada kiai dan ulama adalah sebuah kebaikan.

Namun tahukah kamu, saat kita menjalankan tradisi itu kita juga belajar mengambil hikmah dan ilmu kehidupan. Saat ketemu saudara disamping kita saling mengakui kesalahan dan mohon maaf, kita bisa mengambil pengalaman hidup mereka hingga mereka sukses dan sayang dengan keluarganya. Mengambil tauladan perjuangan hidup yang sudah dilakukan mampu menginspirasi diri kita untuk maju menuju sukses.

Baca Juga: Jangan Pernah Silau Dengan Harta dan Kekuasaan

Tradisi sowan kiai dan masyayikh saat Lebaran memiliki arti yang sangat penting. Di satu sisi kita memberikan angpo atau uang sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangan beliau dalam membangun masyarakat atau bahkan kita sebagai mantan santri, saatnya membalas budi atas ilmu yang telah diberikan. Para santri salaf ziarah kepada kiai dan masyayikh merupakan ikhtiar untuk ngalab barokah atas doa untuk kebaikan hidup kita di dunia dan akhirat.

Disisi lain kita menunggu tausiyah dan wejangan - wejangan hidup agar kita selalu dalam bimbingan Allah SWT. Tradisi sowan kiai dan masyayikh merupakan bentuk ketaatan dan tawaduk seorang santri pada kiai beserta dzurriyah (keluarganya). Menghormati kiai dan masyayikh menjadi spirit moral untuk menjadikan seorang tetap dalam bingkai akhlaq dan etika kepada orang alim dan orang yang oleh Allah diberi karomah.

Baca Juga: Mengenal HM Basori Mulai dari Jadi Pengurus NU, Pengalaman Hingga Karir Politik

Ngalab barokah doa dan memberikan uang pada kiai dan masyayikh hakekatnya bukan kewajiban santri saja, tetapi para aghniyak (orang yang diberi kelonggaran Rizqi) juga seharusnya melakukan hal yang sama. Karena para Kiai memiliki tugas bangun moral masyarakat dan memberikan pendidikan pada masyarakat, sedang para aghniyak yang memiliki kekayaan lebih mempunyai kewajiban untuk memberikan kelebihan Rizqi untuk bekal berjuang para Kiai.

Disisi lain lebaran memiliki makna strategis untuk memahami arti sebuah keluarga atau saudara. Allah memerintahkan kita semua untuk menjaga keluarga kita dari api neraka. Perintah Allah tersebut membuat kita memiliki kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, mensupport kesulitan dan membantu secara finansial kesulitan hidupnya agar mereka tidak terjerumus dalam kekafiran, kemurtadan dan melanggar aturan Allah SWT.

Baca Juga: Idul Fitri Menyadarkan Diri Kita, Kalau Kita Bukan Siapa Siapa !!

Maka berbahagialah kita yang telah bisa mengambil makna Idul fitri untuk menambah ilmu dan pengetahuan tentang hidup yang baik agar kita selalu dalam bingkai Allah SWT. Bagi yang kaya dan jaya tetap sadar bahwa semua milik Allah, demikian juga bagi yang miskin tetap semangat bahwa semua anugerah Allah SWT, kita harus menjalani dengan penuh kesabaran !! Semoga bermanfaat.


Nganjuk, Sabtu 13 April 2024
Oleh HM Basori M.Si
Sekolah Perubahan

Editor: Tiarsin Nawacita

Sumber: HM Basori M.Si Direktur Sekolah Perubahan Training, Research

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB