Minggu, 19 Juli 2026

Fenomena Politik Pencitraan Dalam Pilkada 2024

Photo Author
Tiarsin Nawacita, Nawacita Post
- Sabtu, 13 Juli 2024 | 07:20 WIB
Ilustrasi stop pencitraan politik  (Istimewa )
Ilustrasi stop pencitraan politik (Istimewa )

NAWACITAPOST.COM - Partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi melahirkan banyak partai dalam percaturan politik di negara demokrasi. Semua partai memiliki strategi dalam menggaet suara rakyat di tataran bawah. Maka tidak heran jika komunikasi politik dengan massa pemilih dilakukan secara intens.

Upaya komunikasi politik dengan rakyat bawah tersebut merupakan salah sub elemen komunikasi yang disebut pencitraan politik. Pencitraan adalah penggambaran performen seorang calon yang dilakukan agar rakyat dibawah (grassroot) mengetahui calon yang akan dipilih. Pencitraan adalah sebuah usaha yang dilakukan oleh partai politik atau seorang calon melalui media massa atau secara langsung.

Baca Juga: Makna Strategis Warga NU Dalam Pilkada 2024

Pencitraan dilakukan untuk memberikan persepsi masyarakat terhadap calon yang dianggap memiliki kapasitas, kapabilitas dan mampu memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Pencitraan dilakukan sedemikian rupa, baik melalui pesan atau penataan konsep, desain agar performen seorang calon dipahami dan diterima oleh rakyat bahwa dia seorang calon yang layak menjadi pimpinan.

HM Basori M.Si penulis artikel (Foto istimewa )

Pencitraan sebagai Marketing politik tidak melihat visi, misi atau program seorang kandidat baik apa tidak, namun sebuah usaha untuk mengambil hati, membuat senang dan simpati rakyat agar calon tersebut dipilih oleh rakyat. Dengan pencitraan politik seseorang memilih karena keterkesanan.(impression) dan bukan pertimbangan Fikiran yang rasional.

Baca Juga: Prabowo Efek Dalam Pilkada Nganjuk 2024

Politik pencitraan melahirkan janji - janji manis seseorang yang pernah menjabat dan ingin berkuasa lagi. Politik pencitraan melahirkan manipulasi kebaikan untuk menjajah hak politik rakyat agar seorang kandidat menang dalam kompetisi.

Politik pencitraan melahirkan sebuah kekuasaan yang dianggap demokratis padahal sebuah kompromi politik antar unsur yang berkepentingan untuk mewujudkan kepentingan dan agenda politik yang sudah mereka sepakati sebelumnya.

Baca Juga: Rakyat Dalam Marketing Politik

Membangun persepsi publik dan merekayasa, pencitraan adalah sebuah penyakit demokrasi yang harus diwaspadai, karena ujung - ujungnya ingin melanggengkan kekuasaan dan memenangkan calon kandidat yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas dan profesionalitas.

Maka saatnya rakyat menjadi pemilih yang cerdas, agar pencitraan calon atau pencitraan partai tidak mempengaruhi hak politik rakyat yang begitu sangat berarti. Jadilah pemilih cerdas yang akan mengantar seorang pemimpin yang memiliki kemampuan dan profesionalitas. Bukan karena mereka sudah punya pengalaman atau merasa pernah berbuat, padahal saat berbuat sebenarnya dia melaksanakan tugas sebaga pejabat dengan menggunakan anggaran negara.

Baca Juga: Membaca Peta Politik Nganjuk Dalam Pilkada 2024

Sebuah pencerahan untuk menjadi pemilih yang cerdas, semoga terwujud pemimpin yang profesional dan Digdaya Membangun Masyarakat!!!

Halaman:

Editor: Tiarsin Nawacita

Sumber: HM Basori M.Si Direktur Sekolah Perubahan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengambil Hikmah Perjuangan Kader NU Ketika Di PPP

Selasa, 27 Agustus 2024 | 06:00 WIB

Makna Strategis Elektabilitas Dalam Pilkada Tahun 2024

Selasa, 13 Agustus 2024 | 15:47 WIB

Pentingnya Memahami Rekam Jejak Kandidat Bupati

Minggu, 11 Agustus 2024 | 20:27 WIB

Jangan Jadikan Uang Jadi Tuhanmu

Jumat, 9 Agustus 2024 | 08:43 WIB

Mewaspadai Oportunis Politik dalam Pilkada 2024

Kamis, 8 Agustus 2024 | 20:22 WIB