news

Warga Resah!!! Bau Busuk Tercium di Desa Babadan Patianrowo Nganjuk

Minggu, 26 Januari 2025 | 06:00 WIB
Mesin penggiling limbah yang ada di dalam bangunan depan Kantor Desa Babadan, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur (Sakera Nawacita)

NAWACITAPOST.COM — Warga Desa Babadan, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, resah dikarenakan adanya bau busuk yang tercium di wilayah setempat.

Informasi yang dihimpun wartawan Nawacitapost.com, bau busuk tersebut diduga berasal dari salah satu bangunan yang menyerupai gudang kosong.

Salah satu warga Desa Babadan yaitu Badri (75) ketika diwawancarai tim awak media menyampaikan bahwa bau busuk tersebut berasal dari belakang rumahnya yang diduga digunakan untuk pengolahan limbah dan penggilingan telur.

"Saking wingking (Dari belakang red), niku penggilingan telur didamel pakan (itu penggilingan telur dibuat pakan red)," ucap Badri dikediamannya, kepada wartawan Nawacitapost.com pada Sabtu (25/1/2024).

Baca Juga: Khotmil Qur'an Warnai Tes Kenaikan Tingkat Siswa PSHT Komisariat Padepokan dan Ranting Kota Nganjuk

Badri menambahkan bahwa dari hasil pengolahan limbah tersebut dijadikan pakan ternak diantaranya ikan, dan Bebek.

"Nek kadose niku didamel pakan ulam (kalau kelihatannya itu dibuat pakan ikan red) teng mriku kan enten kolam (itu kan ada kolam red) kalih bebek meri niku lo (sama anak bebek itu lo red)," imbuh Badri.

Menurut Badri jarak antara kediamannya dengan tempat penggilingan tersebut diperkirakan kurang lebih 50 meter, dengan jarak yang jauh tersebut masih menyebabkan bau busuk yang begitu luar biasa.

"Jarak saking griyo teng penggilingan niku 50 meter (jarak dari rumah ke penggilingan itu 50 meter red) nggih tasik mambu nemen (ya masih bau banget red)," katanya.

Baca Juga: Transit di Desa Mojoagung Prambon Diduga Jadi Pemicu Deadlock Konfercab XX PC GP Ansor Nganjuk

Lanjut Badri menjelaskan bahwa penggilingan tersebut juga tidak pasti, terkadang tiga hari sekali, dan terkadang dua hari sekali.

"Kadang nggih tigang dinten giling pindah (terkadang ya tiga hari giling sekali red) kadang nggih kalih dinten (terkadang ya dua hari red), terakhir wingi mambu (terakhir kemarin bau red)," ujarnya.

Badri menjelaskan bahwa sejauh ini juga sudah sempat diprotes warga hingga berkali-kali.

"Nek warga nggih pun wongsal wangsul lek protes, tapi nggih panggah ngoten niku (kalau warga ya sudah berulang kali untuk protes, namun ya tetap seperti itu red)," papar Badri.

Halaman:

Tags

Terkini