news

Serangan Tuyul Politik dari Australia

Selasa, 4 Juli 2023 | 23:18 WIB

NAWACITApost.com - Saya tidak tahu, sebenarnya yang didemo Denny Indrayana, 'tuyul politik' Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Melbourne Australia Selasa (4/7/23) itu Presiden Joko Widodo (Jokowi), atau bosnya Denny sendiri, yakni SBY. Sebab, setahu saya, Jokowi dalam kapasitasnya sebagai Presiden, tidak pernah sekalipun melakukan cawe-cawe pada Pemilu 2024 dan tidak pula membangun dinasti politik di keluarganya.

Apa yang dilakukan oleh Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution, semuanya melalui proses demokrasi dan konstitusional. Hal itu, tentu sangat berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Partai Demokrat yang tidak demokratis dan terdapat unsur pemaksaan.

Apa yang dilakukan oleh Jokowi juga sangat berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh SBY ketika masih menjabat Presiden ke 6 RI. SBY saat itu justru terang-terangan ikut cawe-cawe menjelang Pilpres 2014 dengan mendukung penuh Hatta Rajasa untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) dari Prabowo Subianto hanya dikarenakan HR merupakan besan dari SBY sendiri.

Selain itu, SBY juga sangat jelas dan tak terbantahkan lagi, membangun dinasti politik melalui partai hasil rampokan dan manipulasinya sendiri, yakni Partai Demokrat. Itulah mengapa, anak-anaknya SBY yang sebenarnya masih bau kencur dalam politik, dipaksanya untuk menjadi Ketum dan Waketum Partai Demokrat. Sedangkan SBY sendiri mengukuhkan dirinya sendiri sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, yang kedudukan dan kewenangannya tidak dapat dikalahkan oleh Presiden maupun Raja sekalipun di seluruh dunia ini.

Presiden Jokowi sampai saat ini masih menyerahkan sepenuhnya soal pemilihan bakal capres maupun bakal cawapres (bacapres) pada rakyat, KPU, dan semua ketua umum partai politik. Jokowi sampai detik ini, belum pernah ikut cawe-cawe, setidaknya belum secara tegas menyatakan dukungannya pada bacapres atau bacawapres siapa.

Dan karena netralitas sikap politik Jokowi ini, banyak politisi dan pengamat politik kebingungan memprediksi siapa capres atau cawapres yang nantinya bakal didukung olehnya. Mungkin karena itulah sebagian besar politisi pendukung bacapres tertentu selalu mencoba memanfaatkannya, dengan memberikan tafsiran dan bahkan klaimnya sendiri, bahwa Presiden Jokowi mendukung capres A atau B dan lainnya.

Netralitas pilihan politik Jokowi ini memang akan membuat lawan-lawan politiknya kebingungan dan stres. Karena berbagai pergerakan politik Jokowi tidak mudah terbaca kemana arahnya.
Orang-orang di luar pagar kekuasaan yang selama ini merana karena tak mendapatkan apa-apa seperti Rocky Gerung dan Denny Indrayana, terus menerus memprovokasi Jokowi, dengan harapan agar memanggil mereka dan memberinya jatah kekuasaan di akhir jabatannya. Namun apa dikata, Jokowi tentu sudah sangat lihai membedakan, mana para pejuang dan mana kucing garong alias 'tuyul-tuyul politik', sehingga mereka tidak pernah dihiraukan Jokowi.

Pada akhirnya, Jokowi memang akan menentukan pilihan dukungan politiknya. Dan itu sangat wajar, mengingat sebagai pemimpin nasional yang sudah banyak ikut andil memajukan negara, tentunya Jokowi juga harus dapat memastikan siapa-siapa yang pantas untuk menjadi penerus kepemimpinannya.

Namun, itu kan tidak harus Jokowi lakukan sekarang, di saat masih diberi amanah untuk memimpin sampai akhir masa jabatannya. Maka, biarlah Denny Indrayana dan manusia sejenisnya terus berkoar-koar menyerang Presiden Jokowi, toh pada akhirnya gema suaranya akan menghantam gendang telinga bos besarnya sendiri, yakni SBY.

Justru yang menjadi sebuah tanda tanya, mengapa Denny Indrayana terus menerus menyerang Pemerintahan Jokowi dari Australia? Ada apa dengan negara itu?

Sepertinya kalau ditelusuri ada benang merahnya antara Australia dengan jaringan politik bosnya Denny Indrayana. Masih ingat dahulu di masa Pemerintahan SBY ada narapidana terhukum mati kasus narkoba, namun dibebaskan oleh SBY karena adanya tekanan dari Australia? Kenapa SBY sangat takut dengan Australia? Apakah karena banyaknya rahasia perampokan dan berbagai kejahatannya yang tersimpan melalui phonselnya, dan yang pernah berhasil disadap oleh Australia, lalu SBY menjadi sosok politisi yang lemah gemulai, tak pernah ada gebrakan kemajuan pembangunan, kecuali puing-puing bangunan yang tersisa dari berbagai rampokan anak buahnya?

4 Juli 2023.

Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Ketua Departemen Komunikasi dan Informatika DPP Partai Demokrat KLB Pimpinan Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko.

Tags

Terkini