Jakarta, NAWACITApost.com - Pengamat politik Saiful Huda EmS menceritakan pengalaman dirinya saat pertama kali berkenalan dengan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Saat itu, kata Saiful, dirinya sedang duduk santai di teras rumah Moeldoko, Menteng Jakarta Pusat.
"Saya bertemu seseorang yang ternyata beliau itu merupakan kakak kandung dari Pak Moeldoko. Nama beliau Pak Soejono, seorang lelaki berpenampilan sederhana yang merupakan mantan pegawai Desa di Pesing Kediri Jawa Timur," kata Saiful, di Jakarta, Minggu (7/5/2023).
Setelah keduanya berusaha saling mengenal satu sama lain, Soejono menceritakan tentang sosok Moeldoko. Soejono kemudian menuturkan, Moeldoko merupakan anak bungsu dari 12 bersaudara.
"Namun sekarang keluarga Pak Moeldoko itu tinggal 4 bersaudara," sambungnya.
Menurut cerita Soejono, lanjut Saiful, Moeldoko selalu menghindari untuk menggunakan kekuasaan demi mendapatkan fasilitas mewah untuk keluarganya. Bahkan, Moeldoko tak ingin keluarganya meminta jatah proyek dari pemerintah.
"Moeldoko dari dulu mulai dari jadi Pangdam, Kasad, Panglima TNI hingga Kepala Staf Presiden (KSP), Pak Moeldoko selalu tidak memperbolehkan kakak-kakaknya atau keluarganya untuk mendapatkan fasilitas istimewa apalagi meminta proyek dari Pemerintah," kata Saiful.
Karena itu, kehidupan saudara-saudara Moeldoko hidup dalam kesederhanaan, bahkan kakak kandungnya sendiri berbisnis kecil-kecilan. Termasuk Moeldoko sendiri hingga saat ini juga hidup dalam kesederhanaan. Hal itu bisa tergambar dari rumah pribadinya di Menteng.
"Kita akan mendapati kehidupan Pak Moeldoko yang sangat sederhana. Hampir tidak kita temukan di rumah beliau, barang-barang mewah yang biasa dimiliki pejabat-pejabat tinggi selevel Pak Moeldoko," kata Saiful.
Moeldoko, kata Saiful, tidak seperti yang banyak diberitakan di media sebagai sosok yang memiliki barang-barang mewah seperti jam tangan yang harganya miliaran rupiah. Hal itu karena sesungguhnya Moeldoko hidup sangat sederhana. Meskipun demikian, Moeldoko kerap difitnah orang yang tak menghendaki idealismenya, komitmen, dan loyalitasnya mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara.
Moeldoko yang juga sebagai mantan Panglima TNI dan menerima anugerah bintang empat itu, tak hanya dikenal sebagai sosok yang jujur, setia kawan, gemar menolong orang, tetapi juga dikenal hemat bicara. Namun kalau sudah bicara isinya padat dan langsung membahas serta memberi solusi atas berbagai persoalan. Hal yang seperti itu sudah pernah Saiful sendiri saksikan.
"Kalau Pak Moeldoko sudah memimpin kami rapat, beliau tidak banyak bicara yang bertele-tele, namun cukup berkata singkat dan padat, serta langsung menjurus ke topik persoalan beserta solusinya," kata dia.
Soejono juga bercerita, kalau Moeldoko sedang pulang Kampung di Dusun Pesing Kediri, Jawa Timur selalu berbagi kepada fakir miskin, anak-anak yatim, orang-orang jompo dan para janda. Tak hanya itu, Moeldoko juga kerap membantu renovasi pembangunan infrastruktur desa, seperti pembangunan masjid, pelebaran jembatan, dan jalan-jalan desa hingga memudahkan arus lalu lintas transportasi.
Salah satu hal unik yang pernah dilakukan oleh Moeldoko adalah pembangunan Islamic Center dan Masjid Dr. H. Moeldoko di Jombang, Jawa Timur. Ia membangun Islamic Center dan Masjid itu bukan hanya untuk tujuan tempat beribadah dan kegiatan perekonomian bagi warga sekitar semata. Masjid tersebut didirikan sekaligus untuk mengingat masa-masa kehidupan pahitnya di masa dulu.
"Karena beliau tidak mampu membayar karcis/tiket bus saat pulang dari Sekolah SMAN 2 Jombang menuju rumah di kampungnya Pesing Kediri," kata Saiful.
Menurut Saiful, dirinya ingin memperkenalkan sosok Moeldoko lebih dekat supaya masyarakat tidak salah paham. Kesalahpahaman orang tentang kepribadian Moeldoko bisa saja terjadi, sebab kebanyakan orang hanya mengenal kepribadiannya dari lawan-lawan politik saja.
"Ini semua berkat ide-ide Pak Moeldoko yang revolusioner dan yang telah banyak diimplementasikan oleh orang-orang di sekelilingnya Pak Moeldoko, yang telah menemani beliau berjuang untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara, serta melindungi rakyat dari prilaku-prilaku koruptif, manipulatif elit-elit politisi yang gemar membodohi dan melahap hak-hak rakyatnya," tutur Saiful.
Contoh mutakhir dari apa yang dilakukan oleh Moeldoko adalah ketika dirinya dengan senang hati menerima lamaran pendiri-pendiri dan para penguru Partai Demokrat untuk memimpin partai berlambang Bintang Mercy itu. Moeldoko diharapkan dapat menjadi pelindung untuk menghadapi tirani Trio Cikeas, meskipun ia harus menerima risiko besar.
"Beliau dituduh sebagai pembegal partai dari orang yang sesungguhnya malah menjadi pembegal partai yang sebenarnya, yakni Trio Cikeas," kata dia.
Menurut Saiful, trio Cikeas, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dan Edhie Baskoro Yudhoyo (Ibas) telah menyingkirkan para pendiri Partai Demokrat. Selain itu, mereka juga telah mengubah secara sepihak AD/ART Partai Demokrat dan yang mengukuhkan SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat di tahun 2013.
"SBY juga yang kemudian memaksakan semua peserta kongres untuk menerima anaknya sendiri sebagai Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, sementara dirinya sendiri menetapkan dirinya sendiri sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat yang kekuasaannya melebihi raja diraja yang di Partai Komunispun tidak pernah ada!" kata Saiful.