news

Refleksi Setengah Abad HKTI

Jumat, 28 April 2023 | 17:05 WIB

Jakarta, NAWACITApost.com - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) pada Kamis (27/4/2023) kemarin merayakan hari ulang tahun (HUT) yang ke-50. Itu artinya, HKTI sudah setengah abad turut berperan dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Organisasi ini didirikan pada 27 April 1973 di Jakarta. HKTI merupakan hasil fusi dari 14 organisasi tani yang ada di Indonesia pada saat itu. Sejak awal pendiriannya, HKTI dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, serta mendorong sektor pertanian sebagai basis pembangunan nasional.

Meski sempat terjadi dualisme kepemimpinan, kini HKTI kompak berada dalam satu komando di bawah Ketua Umum Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Sejak terpilih sebagai Ketua Umum HKTI, Moeldoko telah melakukan banyak hal, misalnya melakukan riset benih padi dengan usia panen lebih pendek dan berproduktivitas tinggi.

"Semoga kita semakin semangat dalam pengabdian kepada rakyat, bangsa, dan negara," harap Moeldoko untuk HUT ke-50 HKTI.

Moeldoko mengatakan saat ini ketersediaan pangan domestik masih sangat baik. Meski demikian, capaian tersebut tidak boleh membuat Indonesia lengah, apalagi situasi dunia terus berubah sangat cepat. Misalnya, seperti perubahan iklim dan cuaca serta kondisi geopolitik global. Karena itu, ia mendorong diversifikasi pangan, seperti sorgum.

Dalam berbagai kesempatan, ia juga terus mengajak masyarakat Indonesia untuk mengembangkan sektor pertanian di tengah adanya isu inflasi dan krisis pangan. Sebab perubahan iklim dan cuaca bisa menyebabkan kondisi gagal panen. Di sisi lain, kondisi geopolitik global yang tidak pasti membuat negara lain bisa menghentikan ekspor pangannya ke Indonesia kapan saja.

Sebagai catatan, dalam sepuluh tahun terakhir sejak 2013, nilai tukar petani (NTP) bisa meningkat tajam. Pada 2013, NTP berada di angka 104,92, sementara pada 2022 lalu NTP naik menjadi 107,33. Artinya, dalam rentang 10 tahun terakhir, level kesejahteraan petani Indonesia konsisten berada di bawah level tahun 2013. Ini tentu saja menjadi kenyataan memprihatinkan.

Karena itu, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Indonesia perlu mendorong para petani bisa menciptakan nilai tambah. Namun, sebelum itu dilakukan, kebutuhan sarana dan prasarana pertanian untuk para petani juga harus tercukupi terlebih dahulu.

Tags

Terkini