news

Ketum HKTI Ungkap Tantangan Besar Pertanian Indonesia

Selasa, 28 Maret 2023 | 15:45 WIB

Jakarta, NAWACITApost.com - Ketua Umum (Ketum) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Moeldoko mengatakan, terdapat 3 tantangan besar yang dapat mempengaruhi tingkat produktivitas pertanian Indonesia. Menurutnya, ketahanan pangan menjadi tantangan tersendiri yang perlu dihadapi saat ini. Mengingat, jumlah pertumbuhan penduduk yang pesat, dan diperkirakan akan mencapai 319 jiwa pada 2045.

Di sisi lain, menurut data Badan Statistik Nasional (BSN), pertanian di Indonesia masih didominasi oleh petani kecil berlahan sempit dengan persentase mencapai 72,19 persen. Dengan persentase besar tersebut, masih ditemukan berbagai permasalahan yang mempengaruhi produktivitas petani dalam memenuhi permintaan pangan domestik yang terus meningkat setiap tahunnya.

Salah satu permasalahan terbesar yang dihadapi petani kecil antara lain, minimnya pengetahuan agrikultur dan adaptasi teknologi. Padahal, adaptasi teknologi petani juga perlu dilakukan melalui pengembangan mesin pertanian yang sesuai dengan skala lahan kecil.

"Petani kita ya begitulah, begitu ada teknologi mereka tidak semerta-merta mau menerima. Selain itu ada juga permasalahan pascapanen, itu lossnya bisa 10%. Bisa dibayangkan kalau 10 hektare itu berarti satu per sepuluhnya hilang," kata Moeldoko, di Jakarta, Selasa (28/3/2023).

Permasalahan berikutnya, keterbatasan akses permodalan. Kesulitan akses permodalan petani dalam membeli pupuk dan bibit berkualitas menyebabkan kebanyakan petani masih mengandalkan bantuan dari pemerintah.

Pemerintah memang telah mempersiapkan alokasi pupuk dan bibit bersubsidi di tiap daerah setiap tahunnya. Namun, menurut Moeldoko, petani perlu melakukan inisiatif dalam meningkatkan produktivitasnya secara mandiri sehingga tidak terjadi kelangkaan bibit maupun pupuk terutama ketika memasuki musim tanam.

Khusus terkait pupuk, Moeldoko menyampaikan, saat ini masih menjadi perhatian pemerintah karena bahan bakunya bergantung pada impor. Dalam jangka panjang, menurutnya, diperlukan pembangunan atau investasi fasilitas produksi bahan baku, perbaikan sistem subsidi, dan jaminan ketersediaan pupuk sesuai dengan kondisi geografis Indonesia.

Perubahan pola curah hujan, dan cuaca ekstrem juga turut mempengaruhi hasil panen dan kualitas produksi pertanian. Hal itu diperparah dengan minimnya pengetahuan dan sumber daya pertanian dalam penerapan praktik pertanian berkelanjutan sehingga dampak perubahan iklim lebih sulit untuk dibendung.

Di balik berbagai tantangan yang dihadapi oleh petani kecil, potensi produksi pertanian petani masih dapat terus dikembangkan melalui berbagai usaha dan kerja sama baik dari pemerintah dan pelaku industri penunjang seperti produsen pupuk dan bibit. Dengan memaksimalkan potensi tersebut, kedepannya ketahanan pangan dan mitigasi krisis pangan di Indonesia dapat tercapai sehingga stok pangan dapat lebih terjamin baik dalam segi kuantitas maupun kualitasnya.

"Dengan dimaksimalkannya sumber daya manusia dan praktik penerapan pertanian berkelanjutan, perekonomian dan kesejahteraan petani kecil di Indonesia dapat diprediksikan meningkat dari sebelumnya," kata Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) itu.

Tags

Terkini